JAPANESE CULTURE (KIMONO)


Hari selasa yang membuat saya sangat bahagia, bisa bertemu dengan teman-teman kelas Cha No Yu. serta menjadi model dalam memperkenalkan kimono.

Untuk Kali ini saya  membahas tentang KIMONO.. Untuk Chanoyu dilain kesempatan…

Kimono wanita.
Pemilihan jenis kimono yang tepat memerlukan pengetahuan mengenai simbolisme dan isyarat terselubung yang dikandung masing-masing jenis kimono. Tingkat formalitas kimono wanita ditentukan oleh pola tenunan dan warna, mulai dari kimono paling formal hingga kimono santai. Berdasarkan jenis kimono yang dipakai, kimono bisa menunjukkan umur pemakai, status perkawinan, dan tingkat formalitas dari acara yang dihadiri.

KUROTIMESODE
Tomesode adalah kimono paling formal untuk wanita yang sudah menikah. Bila berwarna hitam, kimono jenis ini disebut kurotomesode (arti harfiah: tomesode hitam). Kurotomesode memiliki lambang keluarga (kamon) di tiga tempat: 1 di punggung, 2 di dada bagian atas (kanan/kiri), dan 2 bagian belakang lengan (kanan/kiri). Ciri khas kurotomesode adalah motif indah pada suso (bagian bawah sekitar kaki) depan dan belakang. Kurotomesode dipakai untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara-acara yang sangat resmi.

IROTOMESODE
Tomesode yang dibuat dari kain berwarna disebut irotomesode (arti harfiah: tomesode berwarna). Bergantung kepada tingkat formalitas acara, pemakai bisa memilih jumlah lambang keluarga pada kain kimono, mulai dari satu, tiga, hingga lima buah untuk acara yang sangat formal. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Kimono jenis irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kurotomesode, misalnya resepsi di istana kaisar. Sama halnya seperti kurotomesode, ciri khas irotomesode adalah motif indah pada suso.

FURISODE
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahan berwarna-warni cerah dengan motif mencolok di seluruh bagian kain. Ciri khas furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Furisode dikenakan sewaktu menghadiri upacara seijin shiki, menghadiri resepsi pernikahan teman, upacara wisuda, atau hatsumode. Pakaian pengantin wanita yang disebut hanayome ishō termasuk salah satu jenis furisode.

11694912_984549704950673_5986241915031531781_n

KIMONO FURISODE

HOMOGI
Hōmon-gi (訪問着?, arti harfiah: baju untuk berkunjung) adalah kimono formal untuk wanita, sudah menikah atau belum menikah. Pemakainya bebas memilih untuk memakai bahan yang bergambar lambang keluarga atau tidak. Ciri khas homongi adalah motif di seluruh bagian kain, depan dan belakang. Homongi dipakai sewaktu menjadi tamu resepsi pernikahan, upacara minum teh, atau merayakan tahun baru.


IROMUJI
Iromuji adalah kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut, merah jambu, biru muda, atau kuning muda atau warna-warna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.

12782173_1714411012129141_113123235_n

KIMONO IROMUJI

TSUKESAGE
Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Menurut tingkatan formalitas, kedudukan tsukesage hanya setingkat di bawah homongi. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga. Tsukesage dikenakan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi, pesta pernikahan, pesta resmi, atau merayakan tahun baru.

KOMON
Komon adalah kimono santai untuk wanita yang sudah atau belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah motif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang. Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman-teman, atau menonton pertunjukan di gedung.

12049505_984551508283826_7273301444591785435_n

KIMONO KOMON

TSUMUGI
Tsumugi adalah kimono santai untuk dikenakan sehari-hari di rumah oleh wanita yang sudah atau belum menikah. Walaupun demikian, kimono jenis ini boleh dikenakan untuk keluar rumah seperti ketika berbelanja dan berjalan-jalan. Bahan yang dipakai adalah kain hasil tenunan sederhana dari benang katun atau benang sutra kelas rendah yang tebal dan kasar. Kimono jenis ini tahan lama, dan dulunya dikenakan untuk bekerja di ladang.

YUKATA
Yukata adalah kimono santai yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis untuk kesempatan santai di musim panas.

1937248_984551848283792_2609040771053705530_n

YUKATA

 

Kimono pria
Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam.

Kimono paling formal berupa setelan montsuki hitam dengan hakama dan haori
Bagian punggung montsuki dihiasi lambang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional. Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.
Kimono santai kinagashi

Pria mengenakan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Aktor kabuki mengenakannya ketika berlatih. Kimono jenis ini tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

 

SUMBER : Japan Foundation

Model : Karyawan Japan Foundation, Satomi san, Kaori san, Aya san, Dhyan san, Melly san, Jani san  dan Natali san

 

 

Iklan

Mengenal Kebuidayan Negara Sakura


IMG20150317151245

Untuk pertama kalinya saya mengikuti acara di Japan Foundation, niat ajak teman-teman untuk ikut. Tetapi pada akhirnya saya datang sendiri. Karena sudah penasaran sekali dengan kebudayaan jepang.

Hari ini acara di tampilkan oleh Japan Foundation (JF-Jakarta) adalah DISCOVERING JAPANESE CULTURE: From Traditional to Pop Culture yang dimulai dari

Jam 10.00 – 12.00 Discovering Chanoyu – Pengenalan Budaya Jepang Melalui Upacara Minum Tea

Jepang menjadi salah satu negara yang memiliki ritual minum teh yang istimewa. Mengapa istimewa, karena tradisi minum teh di Jepang diselenggarakan dalam upacara khusus yang menggabungkan antara seni dan filsafat hidup.
Upacara minum tea ala jepang ini syarat dengan filosofi hidup, terhadap pencipta, manusia dan alam sekitarnya. Saya diberikesempatan ikut serta mengikuti prosesinya satu persatu tahapan. Dalam prosei ini ada dua penyaji utama yaitu Hantosia senior penyaji dan Otamae yang membuat tea, serta beberapa rekan yang membantu untuk pembagikan tea untuk tamu.
Dalam prosesi sebenarnya tamunya tidak dibatasi, serta lamanya 4-6 jam. Tetapi untuk di Japan Foundation kali ini dibatasi setiap sesi 20 orang, dilaksanakan 3 sesi. Karena waktu yang terbatas. Jadi prosesi ini sebagian kecil dari prosesi aslinya.
Saya mendapat sesi pertama. Cara membuat tea itu ada aturan dan tatakramanya semua ada makna dan filosofi. Teman minum tea kali ini disediakan kue moci. Setelah penyaji menyiapkan the untuk tamu istimewa, baru para pembantu penyaji lainnya mengeluarkan cawan yang lain untuk diberikan pada tamu lain. Meminumnya pun ada aturannya. Setelah menerima cawan, cawan diputar 2 dua kali. kemudian diseruput sampai habis (tidak langsung satukali minum bisa dua atau 3 kali minum dan yang terakhir harus bunyi srrrrruuuuuup) kenapa harus bunyi dalam arti menghormati tuan tumah sudah menjamu tamu. kemudian bekas bibir kita dibersihkan dengan tangan, setelah dilap cawan diputer kembali dua arah berlawanan dengan jarum jam. baru dikembalikan ke tuan rumah.

DSC_9662

DSC_9664

DSC_9665

Jam 13.30 – 15.00 Discovering Kimono – Pengenalan Budaya Jepang Melalui Pakaian Tradisional Jepan

Pada sesi ini diperkenalkan berbedaan KIMONO dan YUKATA :
– Berbeda dengan kimono yang disebut orang Jepang sebagai Gofuku atau Wafuku dan hanya dipakai pada kesempatan formal seperti pernikahan, upacara masuk sekolah, atau upacara kedewasaaan tahun baru,
– Yukata dipakai untuk kesempatan santai, seperti berjalan-jalan melihat pesta kembang api, melihat matsuri atau menari di saat perayaan Obon.
– Berbeda dengan kimono yang berharga mahal hingga luar biasa mahal, harga Yukata umumnya terjangkau oleh semua orang.
– Berbeda dengan kimono jadi yang hampir-hampir tidak ada toko yang mau menjualnya, Yukata yang sudah jadi dengan beraneka ukuran banyak dijual toko dengan harga terjangkau.
– Berbeda dengan kimono yang menurut ukuran lebar lengannya dapat diketahui status seorang wanita (sudah menikah atau masih gadis), Yukata dapat dipakai oleh siapa saja tanpa mengenal status.
– Berbeda dengan kimono yang dikenakan dengan pakaian dalam sebanyak dua lapis (Hadajuban dan Juban), perempuan yang mengenakan Yukata hanya perlu pakaian dalam lapis pertama (Hadajuban).

IMG20150317133356

IMG20150317135116

IMG20150317140353

IMG20150317142756

IMG20150317143509

IMG20150317144033

Jam 16.00 – 18.00 Discovering Pop Culture – Pengenalan Budaya Modern Jepang di bidang Musik dan Film
Menghadirkan pembicara Mr. Nick HAYASHI dari Amuse Inc. dan Sdr. Sas Kwan dari Tawa-Tawa Ent.
Mengulas seluk beluk etos kerja masyarakat Jepang di bidang entertainment.

Membatik Asik Bogor 2015


Dapat undangan dari komunitas Love Our Heritage untuk belajar membatik Bogor.

Wah Bogor punya batik juga? Baru tahu nich… akhirnya saya putuskan untuk ikut belajar walau pun ini bukan yang pertama kalinya.

Berangkat dari Stasiun Gondangdia sudah dari jam 05.00 pagi, hanya commuterlinenya terlambat. Janjian bersama Thenenny Enny dan Lilis Suryaningsih di stasiun Bogor .

Dilanjutkan menggunakan angkutan umum (Hijau Muda 07) warung jambu turun di jalan Julang 1

DSC_9258

selanjutnya jalan kaki menuju jalan Jalak No.2

DSC_9259

Disambut dengan ramah oleh komunitas dan pemilik galery Batik Bogor Tradisiku, sambil menunggu peserta dan panitia menyiapkan segala sesuatunya untuk workshop kali ini. saya motret beberapa produk yang ada digaleri.

Pewarnaan Alam

Batik dengan pewarnaan alam

Mbak Lisha mengenalkan Batik Bogor Tradisiku (BBT) adalah pelopor Batik Bogor yang didirikan tanggal 13 Januari 2018 atas prakasa bapak SIswaya. Kecintaannya terhadap Bogor menginpirasinya untuk memberikan sesuatu kepada Bogor, yakni melelui Batik. Selain itu, dengan membuka lapakan pekerjaan bagi masyarakat Bogor dan melestarikan warisan budaya tak benda milik Indonesia yang diakui UNISCO pada 2 Oktober 2009.

Setelah panjang lebar penjelasan sejarah dan membuat batik, kami langsung diajak mempraktekkan secara langsung apa yang telah dijelaskan dikelas.

DSC_9403

Tidak Lupa mengucapkan kepada Love Our Heritage dan Batik Bogor Tradisiku atas ilmu yang sudah diberikan sebagai dasar kami mengenal Batik secara keseluruhan.

Galeri & Workshop :
Jl, Jalak No.2 Tanah Sareal Kota Bogor
Telp. 0251-8374616

Boutique
Botani Square Lantai 1 (Boutique Center La Gossypia)
Telp.0251-8007126

Menghadiri Upacara Seren Taun di Kesepuhan Sinar Resmi


Kurang lebih perjalanannya seperti ini

Para Peserta berkumpul di depan Halte Busway Departemen Pertanian Arah Ragunan pukul 20.00 WIB.

Sebenarnya bukan ke Ciptagelar tapi ke Sinar Resmi ada kesalahan komunikasi yang di terima oleh Pemimpin rombongan. Tapi kesepakatan kami bersama mengunjungi Ciptagelar atau Daerah baru tidak ada masalah.
Jum’at 15 Juni 2012
20.00 – 21.00 Registrasi Ulang
21.00 – 23.30 Persiapan Berangkat
21.30 – 04.00 Menuju Pelabuhan Ratu

Sabtu 16 Juni 2012
04.00 – 06.00 Istirahat dirumah Penduduk
06.00 – 07.00 MCK
07.00 – 08.00 Sarapan Pagi
08.00 -08.30 Persiapan ke Sirna Resmi
08.30 – 12.00 Menuju Sirna Resmi
12.00 – 13.30 Isoma sekaligus menuju rumah penduduk
13.30 – Selesai Mengikuti Jadwal Panitia Acara Seren Taun

Minggu 17 Juni 2012
04.30 -06.00 Ritual Ngangkat
06.00 – 07.00 MCK Sarapan pagi
07.00 – 09.00 Persiapan Ritual Ampih Pare Ka Leuit
09.00 – 11.00 Ritual Ampih Pare Ka Leuit (Acara puncak)
11.00 – 13.00 Geurah Leutik
13.00 – 14.00 Menuju Pelabuhan Ratu
14.00 – 15.00 Menuju Jakarta
20.00 Sampai di Halte Busway Deptan Ragunan

Saya berangkat dari Jalan Johar Gondangdia menumpang teman pukul 17.00 WIB sampai Sarinah Thamrin dilanjut menggunakan Busway arah Blok M, Turun di Dukuh Atas untuk Transit Menuju Ragunan. Sampai Halte Busway Ragunan pukul 18.30 saya menunggu di dalam Halte, pukul 19.00 saya menilihat seseorang wanita membawa tas ransel sepertinya salah satu peserta yang akan ikut Seren Taun.

Jam menunjuk pulul 19.30 saya berjalan ke Pangkalan Angkot arah Cilandak /Lebak Bulus untuk menyakinkan teman2 peserta lainnya seperti Riza Pranita, Amie Rahmilah Amie.

Tapi sebelum bertemu mereka semua “Air dari langit” keburu mengguyur tempat kita berkumpul. dan akhirnya saya meneduh di Halte Busway. Tidak lama Riza menelpon saya menayakan posisi ada dimana dan begitu juga dengan Amie. dan saya putuskan untuk berkumpul di halte dahulu sambil menunggu hujan reda. Tidak lama Mas Budhi menyusul ke Halte untuk memberitahu kalau sudah ada peserta kumpul diwarung.

Setelah bertemu dengan mereka kita berkumpul dengan yang lainnya Budhi Suwarsono, Freddy MH, Njang Abas dan Ipan. Mas Budhi sudah bertemu dengan peserta yang saya lihat dari halte busway yang  ternyata Mbak Vinca. disusul Deby Marwati dan satu persatu peseta berkumpul Herdiana Prasetyaningrum (Dian), Jule Winchester (Yuli Fitriani), Rahminur Handayanibeserta temannya Tri Rahayu Handayani dan yang terakhir adalah Dani Daniar.

Peserta Sudah kumpul semua tetapi Elf yang ditunggu-tunggu tak kunjung munjul, setelah dihubungi ternyata kena macet. Dimaklumin kalau Jakarta diguyur hujan pastinya dimana-mana jalanan ada “Si KOMO lewat”.  Dengan terlambatnya Elf  entah mengapa saya tidak paham alasannya, mbak Vinca mengundurkan diri ikut serta dalam rombongan.

Pukul 10. 28 WIB akhirnya Elf yang akan membawa kami semua hadir didepan Warung, tidak menunggu lama kami berdoa dan memasukkan barang bawaan, perjalan panjang dimulai dengan tidak lupa untuk menghampiri peserta yang menunggu di Ciawi Rasti Setya.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju penginapan pertama dirumah Pak Endang yang letaknya di Pelabuhan Ratu sampai pukul 3.30 WIB.  Kami disambut oleh pemilik rumah yang ternyata hobby juga dengan memotret. setelah bersih diri tidak lama semua terkapar seperti pindang (wkwkwkwkwkwk).

Jam menunjuk pukul 5.30 WIB satu persatu peserta dan panitia bangun dari tidur  dan bersih diri dilanjutkan dengan sarapan pagi. tapi sebelumnya kita berkenalan dan ngobrol membuat suana akrab makin terasa… hiaaaaaaaaaaaaa.. wkwkwkkwkwkwkw …… itu yang keluar setiap ada celoteh dari salah satu peserta…

dan ada pula yang bertingkah lucu salah satunya buka lapak pijetan.

Karena waktu makiin siang dan sarapan sudah siap maka kami beranjak untuk menuju meja makan, asik ada sambel, tempe, tahu, ikan goreng dan sop ikan Marlin.

SOP IKAN MARLIN

Setelah makan kita pamitan untuk berangkat ke Desa Sirna Resmi, Cisolok lokasi dimana diadakan Seren Taun Kesepuhan Sirna Resmi. Sambil menunggu kendaraan yang akan membawa kami semua ke sana beberapa teman-teman membeli jamu gendonk.

Mobil yang akan membawa kami semua juga merupakan mobil pak UHE salah satu warga lokal yang membantu terselenggaranya acara SEREN TAUN ini, karena bersama kita semua ada beberapa bahan makana yang dibawa seperti minyak, Indomie, Aqua dan lain-lain .

Selama perjalanan kami semua menikmati pemandangan dan canda tawa yang tidak terelakkan.. :)) (huahahahahahahahahahaha) #sampe sakit perut..

Akhirnya sampai di Lokasi Seren Taun, kurang lebih 800 M sebelum lokasi sudah di padati oleh pedagang dari penduduk sekitar dan dari luar kota juga.

Imah Gede dari Samping

Kami semua masuk ke Imah Gede rumah dari kepala adat Kesepuhan Sinar Resmi yaitu ABAH ASEP NUGRAHA, kami bertemu dan berbincang2 dengan beliau untuk meminta ijin menyaksikan acara SEREN TAUN.

ABAH ASEP NUGRAHA

Foto bersama ABAH ASEP NUGRAHA

Setelah bertemu kami semua disuguhkan makan siang dengan sederhana tetapi sangat bermakna sekali. Nasi dengan lauk ikan, sayur dan kerupuk, tidak lupa buah. Makan lesehan dengan didepan kita berhaparan makanan kecil khas daerah setempat,  tapi buat saya cemilan tidak asing. Ternya setelah mencari tahu apa sebabnya makanan itu ada ternyata Ambu berasal dari Betawi. Pantas apa yang saya lihat makan tersebut tidak asing.

Nasi Organik

Lauk

Makan Selesai kami diantar ke rumah penduduk untuk beristirahat dan menginap. Tepatnya dirumah bapak Unen lokasinya tidak jauh dari Lapangan dan Imah Gede.

Rumah pak UNEN

Karena Udara masih bagus dan kami semuanya ingin berkeliling akhirnya diputuskan untuk hunting lokasi sebelum acara sore dimulai.

Suasana Lokasi Seren Taun

Rumah di Kampung

Leuit

Wayang Golek

Pemandangan Alam

Kesenian Lokal

Hasil Kerajinan

Berkeliling kampung pun akhirnya selesai kami beristirahat dpenginapan sambil menunggu acara berikutnya. Bersih-bersih diri, dengan kondisi air yang cukup minim dan kamar mandi yang tidak ada kunci pun kami tutup dengan kain seadanya. Jika ingin mandi atau buang air kami harus mengambil air dipenampungan dengan ember. (lupa moto)

Salah satu panitia  memberitahukan pada kami untuk makan malam sudah tersedia di Imah Gede. Persiapan ke Imah Gede untuk para wanita diharuskan menggunakan sarung / kain panjang adat istiadat selama berada di Kasepuhan Sinar Resmi.

Wajib Memakai Sarung/kain
Untuk Wanita

Suasana Makan Malam

Dilanjutkan dengan menyaksikan pertunjukan di panggung Utama dengan dibuka oleh MC, dilanjutkan pertunjukan Balebat, Gondang Buhun, kembang api dan ditutup dengan Dangdutan.

MC Membuka Acara

Balebat
Foto by Dyan dan Dani

Gondang

Kembang Api

Karena Kantuk yang tidak dapat ditahan lagi, akhirnya kami semua tidur. Di kamar ada 4 orang dan 9 orang diruang tengah . Malam yang sunyi dan tenang.  Terbangun pukul 3 dini hari melihat temanku masih  tertidur. Mereka lelap sekali tidurnya, jika ingat celoteh mereka saya tersenyum. Betapa bahagia tanpa beban mereka berceloteh.

Tak lama kemudian kentongan berbunyi menandakan acara akan dimulai kembali, Adzan Subuh berkumandang yang muslim berduyun-duyun ke masjid yang tidak jauh dari rumah tempat kami menginap.Selesai sholat kami semua menuju pelataran Imah Gede untuk menyaksikan acara Ngangkat.

Ritual Ngangkat

Ritual Ngangkat
Diiringi oleh Dogdog Lojor

Selesai Ritual Ngangkat kami semua bersih2 diri kemudian makan pagi dan dilanjutkan persiapan Ritual Ampih Pare Ka Leuit (UPACARA UTAMA).

Untuk penghormatan kepada padi, maka prosesi meletakakn padi ke Leuit atau Lumbung dilaksanakan, Padi yang sudah di panen diarak ke tengah-tengah lapangan dengan diiringi dogdog lonjor, rengkok, 7 putri, pemikull padi, pembawa bakul padi dan debus, dengan petunjuk lengser. Lengser, Ambu dan para pejabat menjemput Abah menuju Leuit.

Di depan Leuit ritual pun dilaksanakan sebelum padi dimasukkan ke Leuit. Salah satu pengurus petani naik mamasukkan “kemenyan” disusul oleh Abah naik masuk merapikan padi, kemudian para pejabat diberikehormatan untuk naik memasukan padi sambil diiringi oleh Kidung Puhun. Setelah semua meletakkan padi di Leuit, Salah satu pengurus tadi menghadap keluar untuk memimpin doa, ada ritul didalam Leuit. Abah pun meninggalkan Leuit diiringi pejabat diikuti oleh 7 putri dengan rampak sekar (membuang bunga dari bokor yang dibawanya).

Lengser

7 Putri

Rengkong

Pemikul Padi

Dog Dog Lonjor

Iring2an Ritual Ampih Pare Ka Leuit

Pengurus Petani

Ritual Sebelum padi dimasukan ke Leuit
Foto by Dani

Abah masuk ke Leuit
Foto by Dani

Pejabat masuk ke Leuit sambil membawa Padi
Foto by Dani

Pengurus Petani berdoa sebelum ritual didalam Leuit
Foto by Dani

Abah kembali ke Imah Gede

Acara peletakan pun selesai dan ditutup dengan saresehan, dilanjutkan dengan acara Debus.

salah satu atraksi Debus

Saresehan Geureuh Letik “nyorang ka tukang, Nyawang Anu Bakal Datang” , saresehan untuk pemantapan hasil pertanian yang akan datang.

Karena kami harus kembali ke Jakarta, beres-beres dan bersih diri, kemudian ke Imah Gede berpamitan ke Abah dan Ambu… (lupa moto sama Ambu), lanjut Ambil Perbekalan dan Pamitan ke Ibu Uci yang rumahnya sudah menjadi tempat kita bermalam.

Kendaraan yang akan membawa kami ke Pelabuhan Ratu menunggu ditempat yang agak jauh sehingga kami harus berjalan menanjak, Perjalan menuju Pelabuhan Ratu dengan waktu tempuh yang lebih cepat dari berangkat.. Pusing euy pak bawaknya kencanga buanget..

Sampai di tempat kemarin kami berangkat Elf sudah mendunggu dan pindahkan barang langsung duduk manis. ngak lama semua sudah tertidur (karena perut belum diisi).  Ngak lama kami  Makan dirumah makan setelah kenyang kami lanjutkan perjalanan. Full teng makan.. celoteh teman2 dimulai kembali… sampai akhirnya perjalanan berakhir di Depan Halte Busway Deptan Ragunan.

Puji Syukur kehadirat ALLAH SWT yang memberikan saya umur dan Cuaca yang cerah, serta terima kasih buat ABAH ASEP NUGRAHA dan AMBU NURHASANAH, keluarga besar Kasepuhan Sinar Resmi, Panitia Penyelengara. Teman-teman pecinta Budaya Indonesia :Njang Abas, Budhi Suwarsono, Freddy MH, Rasti Setya, Riza Pranita, Amie Rahmilah Amie, Deby Marwati, Herdiana Prasetyaningrum (Dian), Jule Winchester (Yuli Fitriani), Rahminur Handayani, Tri Rahayu Handayani, Dani Daniar, pak supir Elf, pak supir waktu berangkat dan Pak Supir waktu pulang.

Tanpa kalian semua saya tidak dapat membuat cerita ini. kurang dan lebihnya saya mohon maaf jika ada salah-salah kata.

Even di FB : SEREN TAUN

Foto dari Rekan2 seperjalanan:

1. Jule Winchester (Yuli Fitriani)

2. Dani Daniar

3. Tri Rahayu Handayani

4. Budhi Suwarsono

5. Riza Pranita

6.Rasti Setya

7.Dhydyan Savitri

8. Debby

9. Basri

10. Dian

11. Rahmi

12. Amie

CU TO CIPTAGELAR …….. SEPTEMBER YA… !!!!!!!!!!!!!!!!!

Gelar Jepang 2008


Dapat info dari teman yang hobi anime jepang bahwa pada tanggal 16 – 18 Mei 2008 ada acara Gelar Jepang di UI..

Karena diriku suka dengan anime Jepang dan pernak pernik Jepang, maka dibulatkan tekat untuk berburu foto dan info sendirian..

Dasarnya kemana-mana selalu sendiri dengan modalkan kamera poket dan HP jadinya inilah liputan jeprat-jepretnya..

Fotonya dapat dilihat di : Gelar Jepang 2008

 

Spanduk

Jadwal acara

Di Benner acara