Perbedaan Pendapat


Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh. Bagaimana cara menyikapi perbedaan pendapat? Sebagaimana yang terjadi sekarang saya melihat banyak video para ustadz berselisih pendapat tentang sesuatu hal sehingga ada kebingungan yang manakah harus diikuti?

Jawab: Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh. Perselisihan pendapat dikembalikan kepada dalil Al-Qur’an was Sunnah. Allah berfirman:

فإن تنازعتم فى شىء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

“Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu hal maka kembalikanlah kepada Allah dan Rosul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa: 59)

Allah dan Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi pemutus hukum ketika terjadi perselisihan yaitu kembali kepada dalil Al-Qur’an was Sunnah dengan mengikuti bimbingan para Salaf dari kalangan shohabat, tabi’in dan para Ulama yang mengikuti mereka. Karena para Salaf adalah pihak yang paling memahami dalil dan paling baik pengamalannya. Andaikata dalil-dalil dipahami menurut selera masing-masing orang maka akan terjadi banyak kesimpangsiuran dan ini yang membuat kebingungan.

Maka apabila para Salaf telah bersepakat dalam suatu masalah berkaitan dengan aqidah misalnya seperti keyakinan Allah tinggi di atas ‘arsy-Nya bukan dimana-mana, maka orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak halal menyelisihinya. Karena ijma’ (kesepakatan) para Salaf telah dijamin kebenarannya oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Apabila para Salaf berbeda pendapat dalam memahami dalil Al-Qur’an was Sunnah maka yang diikuti pendapat yang lebih kuat dengan melihat alasan-alasannya secara ilmiyyah. Ini yang disebut dengan tarjih yaitu memilih pendapat yang lebih kuat dari aspek dalil dan cara pendalilannya.

Apabila tidak didapati pendapat para Salaf dalam suatu permasalahan maka dikembalikan kepada para Ulama robbani karena Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ahlinya dari kalangan Ulama yang dikenal baik manhajnya, lurus aqidahnya, dan istiqomah mengikuti Salaf.

Dengan demikian tidak setiap perbedaan pendapat boleh dimaklumi. Ada perbedaan pendapat yang harus diingkari seperti perbedaan dalam masalah manhaj dan aqidah. Ada perbedaan yang boleh disikapi dengan lapang dada seperti perbedaan dalam masalah fiqhiyyah selama memiliki sudut pandang yang kuat. Oleh karena itu para Ulama berkata:

وليس كل خلاف جاء معتبرا … إلا خلاف له حظ من النظر

“Tidak setiap khilaf (perbedaan pendapat) itu mu’tabar (diakui) kecuali khilaf yang memiliki sudut pandang (hujjah).”
________________

✍🏻 Fikri Abul Hasan

Iklan