Menginjakan Kaki di Derawan – Hari ke Empat (Habis)in


Kami hanya tidur selama 3 jam sebab semalaman kami harus begadang untuk melihat penyu bertelur. Selanjutnya kami harus cepat-cepat bagun untuk merapihkan semua barang bawaan kami. Hari ini adalah hari terakhir kami tinggal di Derawan. Kami harus sudah berangkat dari dermaga Derawan pukul 10.15 WITA menuju pelabuhan Tengkayu dengan menggunakan speedboat. Sesampainya di pelabuhan Tengkayu kami langsung melanjutkan aktivitas belanja oleh-oleh di Pasar Sebengkok. Di pasar ini sebagian besar pedagangnya menjual hasil tangkapan nelayan yang sudah dikeringkan.

20130609_132342

Pasar Sebengkok

Suasana Pasar Sebengkok

Suasana Pasar Sebengkok

Produk yang dijual di Pasar Tradisional

Produk yang dijual di Pasar Tradisional

Di dalam pasar, perhatian saya tertuju pada sebuah boneka berbentuk sapi dan bebek yang dalamnya terdapat permen coklat. Beberapa dari merk permen coklat tersebut merupakan produk dari negara tetangga. Makanan khas yang saya jumpai untuk dijadikan oleh-oleh adalah kerupuk, ikan asin, maupun permen coklat.

Toples Sapi

Toples Sapi

Waktu menunjuk pukul 12.30 WITA yang berarti saatnya untuk makan siang bersama. Namun ada beberapa rekan kami harus kembali ke Jakarta pukul 17.00 WITA sehingga kami berpisah di Rumah Makan Kepiting Saus Kenari.

Makan Siang di Kepiting Saus Kenari

Makan Siang di Kepiting Saus Kenari

page2

Selesai makan, kami mengantar beberapa rekan ke bandara yang akan pulang ke Jakarta.Sedangkan sebagian teman lain akan kembali ke Jakarta pukul jam 19.00 WITA, termasuk saya. Kami pikir masih cukup waktu untuk jalan-jalan, dan kami putuskan untuk berkunjung ke KAWASAN KONSERVASI MAGROVE DAN BEKANTAN KOTA TARAKAN.

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan

Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan

Memasuki kawasan konservasi ini membuat saya teringat hutan mangrove di Muara Angke Jakarta. Perbedaannya tempat konservasi ini berada di tengah kota. Hutan Mangrove di Tarakan memiliki luas 22 Ha yang berlokasi di Jalan Gajah Mada. Jalan menuju lokasi kawasan ini telah dilakukan pelebaran, dari yang dulunya hanya selebar 5 meter kini diperlebar lagi menjadi kurang lebih 20 meter. Rencana awal dibangunnya kawasan ini adalah akan dijadikan paru-paru kota dari sebuah kota yang sedang berkembang. Di dalam hutan ini juga terdapat Stasiun Karantina sebagai tempat untuk memeriksa kesehatan kera langka yang disebut Bekantan (Nasalis Larvatus). Bekantan yang menghuni kawasan ini lebih kurang 25 ekor. Dahulu masyarakat Bulungan, Tarakan dan Malinau menyebut bekantan dengan sebutan Monyet Belanda, sebab hidungnya yang mancung dan warnanya yang pirang. Seekor bekantan dewasa dapat memiliki bobot sekitar 24-30 Kg. Di kawasan konservasi ini terdapat sekitar 25 macam spesies mangrove dan sekitar 32 jenis burung yang bermukim di sana. Pengunjung yang datang ke sana seolah-olah berada di tengah hutan belantara, bukan di suatu daerah perkotaan. Untuk masuk ke dalam kawasan hutan mangrove tersebut, disediakan jembatan kayu ulin selebar 2 meter dengan panjang 1.976,6 meter dan dibangun di sela-sela kelebatan pohon mangrove yang menakjubkan. Saat ini pengelola sedang mengusahakan penambahan lahan seluas 13 Ha lagi untuk perluasan kawasan konservasi. Dengan kawasan konservasi yang lebih luas diharapkan akan lebih banyak lagi satwa-satwa liar yang tinggal dan berkembang biak dengan memanfaatkan potensi hutan magrove tersebut. Selain itu hutan mangrove juga bermanfaat sebagai penghalang gelombang laut untuk menghindari abrasi sekaligus memperbaiki ekosistem pesisir pantai.

Daftar Nama Tanaman yang ada di KKMB

Daftar Nama Tanaman yang ada di KKMB

Belum puas kami berkeliling di hutan mangrove untuk melihat dan mengamati kehidupan bekantan dari jarak dekat, petugas telah mengumumkan kepada seluruh pengunjung bahwa waktu kunjung di kawasam konservasi telah usai. Ternyata batas waktu kunjung di kawasan konservasi ini hanya sampai pukul 17.00 WITA.

Bersama Patung Bekantan

Bersama Patung Bekantan

Akhirnya, kami harus kembali ke Jakarta lagi. Namun, perjalanan ini telah membuat kesan yang mendalam pada liburan saya kali ini. Mimpi ingin kembali lagi untuk mengeksplor lebih dalam kota-kota di Indonesia terutama DERAWAN tambah semakin kuat.

Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.

SALAM LESTARI ..
tulisan ini saya dedikasikan buat sahabat, teman hidup, rekan kerja : Djapro (Editor)
Sumber inspirasi : Abiel
Sumber tulisan : Pengalaman perjalanan dan berbagai sumber.

Saya Ucapkan Terima Kasih kepada ALLAH SWT, Orang tua dan Rekan saya yang telah mengajak dan memberi kesempatan untuk bergabung di perjalanan SAHABAT DERAWAN 6-9 Juni 2013.