Menginjakan Kaki di Derawan – Hari ke Tiga


Kami bangun pagi-pagi dan langsung melihat langit dari jendela kamar. Tetapi ternyata langit masih tetap mendung seperti kemarin sore, jadi gagal lagi untuk memfoto sunrise. Aktivitas selanjutnya kami awali dengan sarapan roti goreng , ciri khas dari sarapan pagi di sebuah penginapan. Sambil sarapan kami melihat ke arah permukaan air laut. Ternyata gelombang laut juga masih tinggi. Akhirnya aktivitas hari ini diputuskan untuk menjelajah perkampungan untuk menikmati makanan khas dan mencari pernak-pernik cinderamata.

20130608_055243

Selasai keliling kampung kami kembali ke penginapan untuk persiapan perjalanan laut menuju pulau Maratua . Waktu saat itu telah menunjukkan pukul 10.20 WITA. Perjalanan dari Derawan ke Pulau Maratua sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama hanya sekitar 45 menit saja. Namun kondisi gelombang laut yang tinggi tidak memungkinkan untuk memacu speedboat pada kecepatan penuh. Perjalanan laut yang lebih lama dengan gelombang yang tinggi menyebabkan beberapa rekan seperjalanan mengalami mabuk laut.

20130608_060259

Pulau Maratua sudah terlihat tetapi ombak masih tetap tinggi. Speedboat tidak dapat menjangkau titik lokasi dimana biasa digunakan untuk melakukan wisata snorkeling sebab ombak selalu menerjang speedboat. Pengemudi kapal tidak berani memaksakan untuk mendekat karena dapat berakibat fatal, yaitu perahu karam. Setelah kami, pengemudi speedboat, guide dan panitia berdiskusi, akhirnya diputuskan untuk mengambil jalan aman agar semua peserta senang dan bisa mendapatkan kepuasan tersendiri. Keputusannya kami diajak ke sebuah pulau bernama NABUCCO. Jarang para wisatawan dipandu ke pulau ini sebab pulau ini adalah pulau yang terjauh. Sebelum menjelajahi pulau, kami semua sepakati untuk makan siang terlebih dahulu. Beberapa teman sudah tidak sabar lagi untuk menikmati keindahan pulau ini.

20130608_133900

PIKNIK di PULAU

Pulau Nabucco merupakan sebuah resort yang cukup cantik. Nabucco Resort memiliki luas 2 hektar dan dilengkapi dengan bangunan 8 double bungalow dan 1 single bungalow. Bangunan bungalow tersebut tertata rapi dan dipadukan dengan arsitektur tradisional khas Kalimantan Timur yang sebagian besar berornamen kayu. Total pengunjung yang dapat ditampung di dalam bungalow tersebut adalah 30 orang. Setiap bungalow mengelilingi sudut pulau dan memiliki teras dengan sudut pandangan langsung ke laut lepas, sehingga pengunjung dapat menikmati panorama laut biru kehijauan serta hamparan pasir putih yang terbentang di seluruh pantai mengelilingi pulau. Terdapat juga dua bungalow yang terletak di tengah-tengah rindangnya flora tropis. Lokasinya yaity di bagian dalam resort. Setiap kamar bungalow memiliki fasilitas pendingin ruangan (AC), celling fan, mini bar, kelambu, toilet, dan kamar mandi dengan shower yang dilengkapi air panas.

20130608_135845

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Pulau Kakaban, lebih tepatnya ke Danau Kakaban. Danau dikelilingi oleh karang dan ditumbuhi oleh tanaman bakau maupun tanaman berkayu.

20130608_170648

Untuk masuk ke dalam kawasan danau, kami harus melewati tangga kayu. Pemandangan begitu indah dan terbentang pemandangan menakjubkan yang tidak dapat saya temukan di pesisir sekitar Jakarta.

20130608_163747

Satu demi satu saya dan teman-teman lainnya menikmati pemandangan di dalam danau. Ternyata perairan danau ini dipenuhi dengan ubur-ubur. Terdapat 4 jenis ubur-ubur yang hidup di danau Kakaban, yaitu ubur-ubur Bulan (Aurelia aurita) dengan ukuran sebesar 5-50 cm, ubur ubur Totol (Mastigias papua) dengan ukuran antara 1-20 cm, ubur-ubur Kotak, (Tripedalia cystophora) dengan panjang sekitar 7-10 mm atau seukuran ujung jari telunjuk, dan ubur-ubur Terbalik (Cassiopea ornata) dengan ukuran sekitar 15-20 cm.

ubur-ubur bulan (Aurelia aurita)

ubur-ubur bulan (Aurelia aurita)
Ubur-ubur Emas (Mastigias cf. papua etpisoni)

Ubur-ubur Emas (Mastigias cf. papua etpisoni)

ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata)

ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata)

Setelah kami puas memfoto ubur-ubur, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 17.30 WITA. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi ke Pulau Derawan. Namun sebelum berangkat, kami istirahat terlebih dahulu sambil minum kelapa muda.

Sesampainya di Derawan saya sempatkan untuk menunggu sunset. Moment yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Setelah memfoto sunset, aktivitas dilanjutkan dengan makan malam bersama. Saat makan malam, ternyata kami mendapat kabar dari petugas penjaga penyu bahwa ada penyu yang sedang bertelur. Tanpa berpikir panjang saya langsung berangkat untuk ikut petugas menyaksikan peristiwa yang langka ini.

Sesampainya di lokasi penyu bertelur ternyata banyak pengunjung lain yang ingin menyaksikan proses penyu bertelur. Pengetahuan saya tentang penyu memang masih terbatas, namun sejauh yang saya ketahui jika penyu sedang bertelur tidak boleh diganggu dengan suara berisik ataupun cahaya lampu, apalagi lampu kilat dari kamera.

Sebelum kami datang di lokasi, ternyata penyu tersebut sudah membuat 3 lubang, namun karena lokasi tersebut terganggu dengan suara yang ramai dan penuh cahaya lampu maka penyu tersebut mencari tempat lain yang tidak jauh dari lubang terdahulu. Petugas memberikan isyarat kepada semua pengunjung untuk tidak boleh mendekati penyu. Namun sangat disayangkan, walaupun petugas telah melarang untuk mendekati lokasi penyu, masih saja ada seorang bapak memotret penyu dari arah depan penyu. Kepedulian pengunjung dan pengetahuan untuk memperlakukan penyu yang akan bertelur masih sangat kurang. Saya juga sempat menegur seorang pengunjung karena memfoto dengan menggunakan lampu kilat. Dan ternyata benar, penyu langsung menutup lubangnya karena terganggu oleh kilatan cahaya. Kami tetap menunggu penyu tersebut selesai menutup lubang tipuan. Sambil menunggu saya sempatkan berbincang-bincang dengan seorang penjaga penyu. Namun perbincangan itu terhenti karena saya melihat salah seorang petugas menggali lubang dimana penyu tadi bertelur. Telur penyu tersebut sengaja dipindahkan oleh petugas untuk menghindarkan pencurian dan jual beli telur penyu.

Setiap Penyu yang naik kedarat pun dicatat oleh petugas penjaga

Setiap Penyu yang naik kedarat pun dicatat oleh petugas penjaga

Petugas menjelaskan bahwa penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, antara 2 sampai 8 tahun sekali. Penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut lepas, sedangkan penyu betina sesekali naik ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pesisir pantai berpasir yang sepi dan jauh dari gangguan suara maupun gangguan cahaya sebagai tempat bertelur . Jumlah telur penyu dapat mencapai ratusan butir di dalam satu lubang . Penyu membuat lubang untuk tempat telur-telurnya dengan menggali menggunakan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya untuk bertelur dan kembali ke laut.

Penyu yang menetas di perairan pantai di Indonesia ada yang dijumpai di sekitar kepulauan Hawaii. Hal itu sebagai bukti bahwa penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.

Tidak banyak regenerasi yang bisa dihasilkan oleh seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dihasilkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut dan tumbuh menjadi penyu dewasa. Itu pun belum memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alami lainnya seperti kepiting, burung, tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.
Belum lama petugas menggali dan telur penyu pun belum terlihat, namun hujan sudah mulai turun dengan derasnya. Pengunjung yang masih di lokasi langsung berhamburan pulang kembali kepenginapan. Hanya kami dari penginapan lestari yang masih tinggal. Kami berteduh disekitar lokasi sambil melihat para petugas menggali lubang telur tersebut. Kami semua takjub dengan kecekatan petugas dalam menggali, mengambil, dan menghitung telur-telur tersebut. Setelah telur penyu dihitung, ternyata hanya 82 butir telur penyu yang diperoleh. Umum penyu bisa menghasilkan 130 butir telur dalam sekali bertelur.

Dengan menyaksikan peristiwa penyu bertelur, semoga dapat menjadikan kesadaran bagi para pengunjung tentang pelestarian penyu-penyu di INDONESIA.

Bersama Bapak Petugas

Bersama Bapak Petugas

Bersama Bapak Petugas

Bersama Bapak Petugas

Waktu sudah menunjuk pukul 02.00 WITA, kami pun kembali ke penginapan. sebuah cerita yang akan selalu menjadi kenangan terindah dalam sejarah menjelajah indonesia.

Bersambung : Hari Ke Empat (habis)