Gondang Buhun


Gondang adalah kelanjutan dari pentas kesenian balebat, gondang dipentaskan seperti balebat. Hanya dalam pentas gondang dilengkapi dengan kentrungan lesung. Anggota pentas seni perempuan menumbuk lesung memberikan gambaran warga adat sedang menumbuk padi.

Gondang Buhun, adalah seni tetabuhan (tutunggulan) yang disertai dengan nyanyian. Alatnya adalah sebuah lisung (lesung, wadah untuk menumbuk padi) dan halu (alu), penumbuk padi terbuat dari sebatang kayu. Bunyi lesung dihasilkan dari tumbukan alu, yang bisa dilakukan ke berbagai bagian lesung, baik ke bagian dalam maupun bagian luar. Seluruh pemainnya perempuan, berjumlah kurang lebih lima orang.

Kesenian ini terkait dengan beberapa ritus, antara lain ritus Nyi Pohaci Sanghyang Sri (mapag sri), ritus minta hujan, dan sebagai undangan kenduri.

Gondang yang dimainkan dalam rangka upacara mapag sri atau ngampihkeun (menyimpan padi ke lumbung) biasanya dilakukan selepas panen. Tempatnya dilaksanakan di sekitar leuit (lumbung padi). Upacara itu dimulai oleh seorang punduh (sesepuh upacara) perempuan, yang berdoa sambil membakar kemenyan, memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan mengucapkan rasa syukurnya atas hasil panen yang didapat. Padi pun diarak, dimasukkan ke dalam lumbung sambil diiringi tutunggulan. Setelah itu, nyanyian gondang pun dilantunkan dengan penuh keceriaan.
Pada musim kemarau yang panjang, dan hujan tak kunjung turun, masyarakat melakukan upacara minta hujan yang disebut dengan iring-iring ucing. Dalam upacara ini, seekor kucing dan ayam jago diarak keliling kampung. Pelaksanaannya pada malam hari, dan tandanya dimulai dengan tutunggulan galuntang. Setelah itu, rombongan gondang bersiap untuk keliling kampung mengarak kedua binatang tersebut. Lesung digotong beramai-ramai, sementara alat musik Ronggeng Gunung ditabuh bersahut-sahutan. Setelah sampai di suatu tempat, kucing dan ayam jago dimandikan, kemudian dilepas. Gondang pun dimainkan.
Lain halnya dengan gondang yang dimainkan untuk kepentingan kenduri. Suara lesungnya yang terdengar sampai jauh, berfungsi sebagai pemberitahuan atau sebagai tanda adanya seseorang yang akan mengadakan kenduri. Suara tutunggulan dan nyanyian-nyanyian itu adalah undangan kepada khalayak ramai untuk datang kepada orang yang punya kenduri. Tutunggulan biasanya dilakukan jauh hari sebelum kenduri seseorang itu dilaksanakan. Biasanya selama tiga hari sampai dengan seminggu. Akan tetapi, ritus-ritus tersebut kini mulai hilang dan gondang pun jarang dimainkan lagi.
Pola permainannya dibagi menjadi dua bagian, yakni tutunggulan dan nyanyian. Dalam Gondang Buhun terdapat empat jenis tutunggulan yang paling dominan, setiap jenisnya mempunyai irama yang khas.
Keempat tutunggulan itu adalah:
a. Galuntang, dimainkan oleh 4 atau banyak orang, yang berfungsi sebagai pembuka dan penutup pertunjukan.
b. Pingping Hideung, dimainkan oleh 4 orang
c. Ciganjengan, dimainkan oleh 5 orang
d. Angin-anginan, dimainkan oleh 7 orang
Setiap pemain gondang mempunyai motif irama dan tumbukannya sendiri. Motif tumbukan atau tabuhan yang berbeda-beda itu kemudian dipadukan sehingga membentuk sebuah komposisi irama. Motif tabuhan tersebut antara lain: turun-unggah atau midua, gejog, onjon, titir, kutek, ambruk, tilingting, dan dongdo.