Bogor Culture Festival 2012 Seba Kuwerabakti


Kumpul di Balaikota BOGOR, para peserta yang mengikuti Carnaval sudah mulai menyiapkan diri dari pasukan kuda, marcing band,  beberapa komunitas kesenian Bogor, ada juga dari papua, dan komunitas Barongsai yang ada di kota BOGOR.

Janjian dengan beberapa teman untuk bisa menyaksikan acara ini ada

* Nurul + kakaknya

*Missy + Wawan

*Peni

*Basri

Kalau sudah dilapangan menguber momen yang ingin dijepret oleh kamera bakal uber-uberan sama peserta karnaval, ingin mengambil enggel yang berbeda setiap pengambilan gambarnya.

Ternyata mengambil dokumentasi yang jurnalistik di lapangan susahnya minta ampun.. lari2an.. (dah ngak dirasa itu dengkul)

—————————————- 00O00———————————————–

Sedikit Cerita tentang kota BOGOR (suber dari flayer dan internet )

Kota Bogor adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 54 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Dahulu luasnya 21,56 km², namun kini telah berkembang menjadi 118,50 km² dan jumlah penduduknya 834.000 jiwa (2003). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 68 kelurahan. Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit’n-zôrkh”, bœit’-) yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”.

Hari jadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor diperingati setiap tanggal 3 Juni, karena tanggal 3 Juni 1482 merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.

Bogor (berarti “enau”) telah lama dikenal dijadikan pusat pendidikan dan penelitian pertanian nasional. Di sinilah berbagai lembaga dan balai-balai penelitian pertanian dan biologi berdiri sejak abad ke-19. Salah satunya yaitu, Institut Pertanian Bogor, berdiri sejak awal abad ke-20.

Sejarah Kota Bogor

Abad kelima

Bogor ditilik dari sejarahnya adalah tempat berdirinya Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad kelima. Beberapa kerajaan lainnya lalu memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan disaat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Namun hingga kini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa arkeolog ternama seperti Prof. Uka Tjandrasasmita, keberadaan tepat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan tersebut, hingga kini masih belum ditemukan bukti otentiknya.

Kerajaan Pajajaran

Di antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang kerajaan-kerajaan yang silam, salah satu prasasti tahun 1533, menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran. Prasasti ini dipercayai memiliki kekuatan gaib, keramat dan dilestarikan hingga sekarang. Kerajaan Padjajaran memiliki pengaruh kekuasaan hanya seluas Jawa Barat dan Banten.

Pakwan yang merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Pajajaran diyakini terletak di Kota Bogor, dan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi Bogor pada tahun 1973 oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor, dan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

Zaman Kolonial Belanda

Setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakuan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada tahun 1687. Mereka melakukan penelitian atas Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.

Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.

Setahun kemudian, van Imhoff menggabungkan sembilan distrik (Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Dramaga dan Kampung Baru) ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru Buitenzorg. Di kawasan itu van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal. Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung, hingga puncak Gunung Salak, dan puncak Gunung Gede.

Kebun Raya Bogor

Ketika VOC bangkrut pada awal abad kesembilan belas, wilayah nusantara dikuasai oleh Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jendral Thomas Rafless yang merenovasi Istana Bogor dan membangun tanah di sekitarnya menjadi Kebun Raya (Botanical Garden). Di bawah Rafles, Bogor juga ditata menjadi tempat peristirahatan yang dikenal dengan nama Buitenzorg yang diambil dari nama salah satu spesies palem.

Hindia Belanda

Setelah pemerintahan kembali kepada pemerintah Belanda pada tahun 1903, terbit Undang-Undang Desentralisasi yang menggantikan sistem pemerintahan tradisional dengan sistem administrasi pemerintahan modern, yang menghasilkan Gemeente Buitenzorg.

Pada tahun 1925, dibentuk provinsi Jawa Barat (provincie West Java) yang terdiri dari 5 karesidenan, 18 kabupaten dan kotapraja (stadsgemeente). Buitenzorg menjadi salah satu stadsgemeente.

Zaman Jepang

Pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1

942, pemerintahan Kota Bogor menjadi lemah setelah pemerintahan dipusatkan pada tingkat karesidenan.

Pasca kemerdekaan

Pada tahun 1950, Buitenzorg menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 1950.

Pada tahun 1957, nama pemerintahan diubah menjadi Kota Praja Bogor, sesuai Undang-Undang nomor 1 tahun 1957.

Kota Praja Bogor berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor, dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 1965[5] dan Undang-Undang nomor 5 tahun 1974.

Kotamadya Bogor berubah menjadi Kota Bogor pada tahun 1999 dengan berlakunya Undang-Undang nomor 22 tahun 1999.

——————————————00O00————————————————

Carnaval dimulai dari Balaikota / Sebalah Hotel Salak :

Pergilah ke barat daya di Jalan Insinyur Haji Juanda menuju ke Jalan Kapten Muslihat, Belok ke kiri untuk tetap di Jalan Insinyur Haji Juanda, Terus ke Jalan Otto Iskandardinata, Belok  ke kiri menuju Jalan Raya Pajajaran, Masuk Kebun Raya dari Pintu 3,  menuju Jalan Astrid Avenue. 

Acara di laksanakan di depan Cafe de Daunan yang terletak dalam kawasan Kebun Raya Bogor.

pertunjukan  kolosal  The Seba Kuwerabakti  karya Adenan Taufik, “Seba Kuwerabakti merupakan impresi peristiwa pada jaman kerajaan Padjadjaran yaitu pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi (1482 – 1521 M), Dikisahkan para raja daerah berkunjung ke Purasaba, ibukota kerajaa, dengan membawa kelebihan hasil bumi untuk dipersembahkan kepada raja Padjadjaran, seperti Panggeres Reuma, Anjing Panggerek, Pare Dondang Kapas Timbang. Untuk pertama kali sejak 500 tahun lalu, Seba Kuwerabakti digelar kembali dalam sebuah pergelaran seni yang monumental.

Sayang ngak sempat nyaksikan acara tanggal 27 Mei 2012, Festival Kampoeng Tionghoa, Festival Kampung Papua,  dan Festival Jajanan Bogoi Baheula. semoga tahun depan bisa ambil momen2 kebudayaan setiap daerah…………

Semoga ada yang menemani lagi Pada 24 Juni 2012 akan berlanjut dengan perhelatan tradisional bertajuk Ngubek Setu.  Ini sebuah pesta rakyat yang dikaitkan dengan beberapa seremoni lawas.  “Acara ini merupakan acara mengambil ikan engan jala di Setu Gede, dengan menggunakan 200 rakit.