Kota Tua Punya Cerita


Hadir di acara “Kota Tua Punya Cerita” yang di pandu oleh Kartum Setiawan, tidak lupa buku + tanda tangan pak Lilie Suratminto, sayang 3 penulis yang lainnya berhalangan hadir.

Peserta di kumpulkan di Auditorium kecil Museum Mandiri, Pak Lilie Suratminto mulai becerita tentang Kota Tua,

Para jawara museum pun ikut mendengarkan cerita dari beliau, mendongeng tentang kota tua yang indah dan nyaman .. kenapa sekarang semerawut ya?

pak Lilie Suratminto menjelaskan “KOTA TUA” pada jaman pendudukan Belanda ..

setelah ini peserta diajak jalan mengelilingi sebagian dari “Kota Tua”

Dibangun pada tahun 1909 dan dirancang oleh Arsitek Hulsurt dan Cuypers. Terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3 yang menempati satu blok. Bangunan ini bergaya khas klasik simetris dengan muka utama dan dua sayap yang mengapit. Arsitektur bangunan mendekati prinsip-prinsip klasik modern. Elemen fenestasi yang didominasi oleh modul vertikal, membuat semua bangunan-bangunan lama di kawasan Jakarta terjalin dalam satu skenario fasade.

Bank Indonesia berasal dari NV. De lavasche Bank, sebuah bank swasta Belanda yang mendapat hak octuvi untuk bertindak sebagai bank sentral dan disirkulasi di Hindia Belanda (tahun 1928). Dengan UU Pokok Bank Indonesia yang mulai berlaku 1 Juli 1953, NV. De Javasche Bank diganti dengan “Bank Indonesia” dan seluruh saham-sahamnya menjadi milik Pemerintah Republik Indonesia.

Perjalanan dari Museum Mandiri ke arah utara menuju jalan Bank dilanjut belok kanan menuju jalan kali besar barat.

Terletak di JL Kali Besar Barat No, 1-2, Jakarta Barat Bangunan ini arsitekturnya bergaya Neoklasik Greek dipadu dengan gaya Renaissance, Doria, dan Corinthian yang didirikan pada abad ke-19, Dahulu gedung dua lantai ini bernama Nationale Handels Bank, keberadaan bangunan ini apabila dikaitkan dengan bangunan lain di sepanjang n, Kali Besar Barat membentuk suatu lingkungan kesejarahan yang meng-ingatkan lingkungan perkotaan di Eropa masa lampau dan memiliki daya tarik tersendiri, Bank Bumi Daya (BBD) ialah salah satu bank milik pemerintah yang didirikan pada tahun 1968, pada mulanya berasal dari Bank Umum Negara (Buneg), Sedangkan Bank Umum Negara berasal dari Nederland-sche Handels Bank N,V milik Belanda yang pada tahun 1959 diambil alih oleh pemerintah RI pada saat terjadi nasionalisasi dan konfrontasi pembebasan Irian Barat.

Pada tahun 1965, ketika berlangsung konfrontasi terhadap Malaysia, pemerintah RI kernbali mengambil alih perusahaan-perusahaan nmilik Inggris, di antaranya The Chartered Bank yang lalu juga diserahkan kepada Buneg, kecuali Chartered Bank di Surabaya dan Medan, Tahun itu juga, Buneg digabungkan menjadi Bank Negara Indonesia Unit N, Pada zaman Orde Baru, dilakukan penataan kembali dunia perbankan di Indonesia, dan BNI Unit IV pun menjadi Bank Bumi Daya.

Gedung tua sebagai saksi kejayaan Batavia lama di tepian Muara Ciliwung. Bangunan tersebut pernah menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal von Imhoff (1705-1751). Bangunan Toko Merah terletak di Jl. Kali Besar No. 11, Jakarta Barat. Secara administratif berada di Kelurahan Roa Malaka, Kec. Tambora, Wilayah Kota Jakarta Barat. Letak bangunan pada masa kejayaan VOC sangat strategis, berada di kawasan jantung kota asli Batavia, berdekatan dengan pusat pemerintahan VOC (Stadhuis). Dari segi bisnis, Toko Merah justru terletak di tepi barat Kali Besar (de Groote River), sebagai “central business district” nya Batavia. Pada saat itu Ciliwung merupakan urat nadi lalu lintas air yang ramai dilayari hingga ke pedalaman. Kawasan Kali Besar sendiri merupakan salah satu wilayah hunian elit di dalam Kota Batavia.

Sejarah Toko Merah: Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem Baron van Imhoff (kemudian menjadi gubernur jenderal) sebagai rumah tinggal. Pada saat ia membangun Toko Merah jabatannya masih sebagai opperkopman, sehingga kadangkala orang meragukan bahwa Toko Merah dibangun van Imhoff. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama “Toko Merah” berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Cina, Oey Liauw Kong sejak pertengahan abad ke-19 untuk jangka waktu yang cukup lama. Nama tersebut juga didasarkan pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester. Warna merah hati juga nampak pada interior dari bangunan tersebut yang sebagian besar berwarna merah dengan ukiran-ukirannya yang juga berwama merah. Di samping itu dalam akte tanah No. 957, No. 958 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil tersebut milik NV Bouwmaatschapij “Toko Merah”.

Bangunan Toko Merah terdiri dari 2 gedung dan sempat beberapa kali berpindah pemilik seperti kepada Jacob Mossel, anak Gubernur Jenderal Mossel yang bernama Phillippine Theodore Mossel; Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, Renier de Klerk, Nicolaas Hartingh, Baron van Hohendorf, dll. Pada tahun 1743-1755 dijadikan Kampus dan Asrama Academie de Marine (akademi angkatan laut), kemudian berpindah tangan lagi. Pada tahun 1786-1808 bangunan ini digunakan untuk Heerenlogement atau hotel para pejabat. Tahun 1809-1813 seluruh bangunan dijadikan rumah tinggal oleh Anthony Nacare. Kurun waktu 1813-1851 kepemilikan beberapa kali berganti hingga kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai taka, sehingga populer dengan sebutan “Taka Merah”. Berpindah lagi pada Oey Kim Tjiang (gedung utara), Oey Hok Tjiang (gedung selatan), Kultur Hong Hiu Kongsi (seluruh bangunan), digunakan sebagai kantor oleh Borneo Compagnie (1900). Di tahun 1901 bagian-bagian ruang samping rumah sebelah utara diambil untuk membentuk Compagnies kammer di Museum Pusat. Kemudian sebagai kantor Behn Meiwe & Co (1917). Tahun 1920 dibeli dan dipugar oleh NV Bouw Maatschappij “Toko Merah” yang menelan biaya satu juta gulden. Bangunan ini diperbaiki lagi oleh Bank Voor Indie yang kemudian berkantor di sini hingga tahun 1925. Kemudian ditempati oleh sejumlah Biro dan Kantor Dagang: Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij, dan WM Muller. & Co. Tahun 1934-1942 menjadi Kantor Pusat N.V. Jacobson vanl den Berg salah satu perusahaan “The Big Five” milik Kolonial Belanda. Di masa pendudukan Jepang menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Ditempati oleh tentara gabungan Inggris-India. Sesudah kemerdekaan menjadi Kantor Dagang Nigeo Eksport. Kemudian di tahun 1946-1957 menjadi kantor N.V. Jacobson van den Berg lagi. Saat terjadi nasionalisasi terhadap semua perusahaan asing di Indonesia N.V Jacobson van den Berg diubah menjadi P.T. Yudha Bakti. Ditahun 1961 berubah menjadi P. N. Fajar Bhakti, berubah lagi menjadi P. N. / P. T. Satya Niaga di tahun 1964. Selanjutnya di tahun 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga (Ltd) dan gedung tersebut tetap digunakan sebagai kantor. Toko Merah merupakan rumah mewah terbesar dari abad ke-18 di dalam Kota yang masih dalam keadaan terpelihara baik.

Arsitektur: Gedung Toko Merah dibangun di atas areal seluas 2.455 m2. Bangunan terdiri atas tiga gedung yang menyatu. Bangunan depan (tingkat dua) dan belakang (tingkat tiga), membujur dari utara ke selatan, adapun bangunan tengah merupakan penghubung bangunan utara dan selatan, melintang dari timur ke barat. Arsitektur bangunan mencerminkan perpaduan bangunan Cornice House (bangunan dengan dinding muka yang ujung atasnya datar dan diberi profil-profil pengakhiran) pada abad ke-18 dan atap tropis. Bangunan Toko Merah sebenarnya merupakan bangunan kembar, dua rumah di bawah satu atap. Hal itu terlihat dengan adanya dua buah pintu masuk ke dalam bangunan dan adanya parapat pemisah yang biasa dibuat untuk mencegah apabila terjadi kebakaran tidak menjalar ke gedung sebelahnya.

Bangunan depan dan belakang dihubungkan dengan bangunan satu lantai berplafon dua tingkat. Kedua bangunan ini berhubungan secara terbuka dan secara visual memberi kesan terbagi oleh adanya tujuh buah pilar tembok persegi panjang dan bukaan yang dibingkai architrave berskala tinggi, berukuran 3,5 m x 2,1 m. Bingkai pilar terbuat dari kayu berwarna merah tua dengan garis keemasan. Di lantai dua terdapat tembok tengah sebagai pemisah ruangan atas yang merupakan terusan dari tembok sebelah bawahnya. Tembok itu berlanjut terus hingga mencapai bubungan atap, baik atap depan, tengah maupun belakang. Tembok pemisah itu juga berfungsi sebagai penyangga guna menopang dan mendukung beban atap yang tinggi dan berat. Tembok depan bangunan yang terbuat dari susunan batu bata yang tidak diplester dapat memberikan kesan unik bagi gedung ini.

Toko Merah memiliki dua buah pintu masuk berukuran besar dan tinggi. Pada bagian atas kedua pintu masuk bangunan terpasang fanlight atau jendela angin yang berada pada satu kusen dengan pintu. Kedua jendela angin kaca di atas pintu (bovenlichten) itupun berpola kotak-kotak dan masing-masing memiliki 30 buah kotak. Semua jendela masih menerapkan gaya abad ke-18 dan berskala monumental guna mengimbangi ruangan-ruangan besar di dalamnya. Kemudian untuk mencapai lantai bagian atas bangunan, terdapat enam buah tangga, kesemuanya berwarna merah hati, terbuat dari kayu terukir artistik. Dari depan bangunan ini seolah hanya memiliki sebuah atap, namun kenyataannya memiliki tiga buah atap. Bangunan depan dan belakang memiliki atap dengan bubungan yang memanjang dari utara ke selatan. Sementara atap bangunan tengah, bubungan atapnya melintang dari timur ke barat, sekaligus sebagai atap penghubung bagi kedua atap bangunan depan dan belakang. Atap bangunan berbentuk atap pelana atau atap rumah kampung, terbentuk oleh susunan kerangka kuda-kuda segitiga yang dihubungkan oleh kerangka-kerangka yang membentang di atasnya tetap orientasi susunan kerangka atap ini menyamping dari arah hadap bangunannya. Susunan kerangka tersebut membentuk dua bidang miring yang berbentuk empat persegi panjang yang menjadi tempat dimana penutup atap.

Bangunan Toko Merah memiliki cukup banyak ruangan, baik di lantai dasar, lantai 2 maupun lantai 3. Selain ruang besar (aula) di lantai dasar dan lantai 2, ruang-ruang lain berfungsi sebagai kamar. Di lantai dasar terdapat 16 buah kamar, masing-masing 8 buah di rumah sebelah utara dan 8 buah di rumah sebelah selatan. Di lantai 2 kamarnya berjumlah 4 buah dan terdapat di bangunan bagian belakang. Sementara di tingkat 3 terdapat 5 buah kamar. Bangunan tambahan di areal belakang memiliki sejumlah kamar.

Gedung Toko Merah yang tak di pakai untuk gedung PT. Dharma Niaga terletak di Jl. Kali Besar Barat No.107, Jakarta Barat. Bangunan yang pernah digunakan sebagai rumah kediaman Gubernur Jenderal VOC Baron van Irnhoff tersebut memiliki arsitektur bergaya Barok abad ke-18, terlihat pada elemen cornice dan jendela tinggi yang dominan. Bangunan ini juga merupakan perpaduan gaya klasik Eropa dan Cina, terutama pada ornamen dalam bangunan. Unsur Cina berupa warna merah hati ayam cukup dominan pada bangunan ini, baik pada warna tembok depan maupun pada interior dari unsur kayu di dalamnya. Di samping itu terdapat unsur tradisional yang juga terdapat pada bangunan, yang terlihat pada hiasan motif kisi-kisi pipih pada balustrade (jeruji pengaman pada samping tangga), terdapat pada tangga di rumah bagian utara lantai 3. Hiasan semacam itu banyak ditemukan pada balustrade rumah-rumah Melayu. Apabila sekarang orang mengenalnya dengan sebutan Toko Merah adalah karena elemen luar dan dalam bangunan didominasi warna merah. Salah satu keunikan lainnya adalah tangga dengan gaya Baroque yang merupakan satus-atunya di Jakarta. Bangunan merupakan penggabungan dari dua bangunan ini menyimpan sejarah yang cukup panjang. Sebelum PD II, bangunan yang terlihat mencolok di antara bangunan di sekitarnya, karena dinding luarnya yang berwarna merah Bangunan ini menerima Penghargaan Sertifikat Sadar Pemugaran 1993.

Mas Kartum dan pak Lilie Suratminto, saya dan beberapa teman2 mencoba memotret ex gereja yang sekarang sebagai museum wayang dengan bayangan dikali Besar …

Museum yang berdiri di atas tanah bekas Gereja Belanda Baru. Terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta. Diresmikan pada tanggal 13 Agustus 1975 oleh Gubernur Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta H. Ali Sadikin. Tujuan utama pembangunan Museum Wayang adalah untuk membina kebudayaan nasional dan karakter bangsa Indonesia. Fungsi museum ini untuk menyimpan, merawat dan mempergunakan wayang dari berbagai wilayah di Indonesia maupun dari luar negeri.

Menyimpan koleksi batu-batuan, perabot rumah tangga dan gambar-gambar dari masa lalu yang berkaitan dengan Jakarta. Museum tersebut didirikan sehubungan dengan timbulnya kesadaran masyarakat Indonesia pada umumnya, khususnya masyarakat pecinta wayang, bahwa seni budaya yang tinggi dan kaya nilainya itu, tidak hanya untuk dimiliki saja tetapi juga harus terpelihara, dikembangkan dan dibina serta dimanfaatkan untuk bangsa dan negara.

Gedung Museum Wayang merniliki ciri arsitektur Barat {Eropa) dengan dinding tembok yang tebal, langit-langit yang tinggi, daun jendela atau pintu jendela lebar-lebar dan pintu yang terbuat dari kayu jati yang masif. Tediri dari dua lantai, bagian bawah dipergunakan untuk kegiatan kantor museum dan sekretariat Yayasan Nawangi. Di tengah-tengah ruangan terdapat taman yang tenang, mengenangkan pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda yang dikuburkan di tempat tersebut. Terlihat juga sebuah dinding tinggi dari batu bakar berwarna kecoklatcoklatan dan dikedua sisinya tercantum nama-nama gubernur-gubernur jenderal yang pernah dikuburkan.

Museum Wayang menempati sebuah bangunan tua bergaya Eropa, yang dahulu merupakan gereja bagi orang Belanda di Indonesia, dan dipugar sekitar tahun 1736 menjadi bangunan gereja baru. Kemudian bangunan gereja itu dibeli oleh suatu perusahaan Belanda dan dijadikan gudang. Gudang ini kemudian dibeli kembali oleh pemerintah Belanda untuk dijadikan museum, karena di dalam bangunan itu terdapat kuburan beberapa pejabat tinggi Belanda dan beberapa benda peninggalan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen yang memerintah dari tahun 1618-1622 dan 1627-1629. Pada tahun 1937 gedung ini berubah menjadi museum, dan dinamakan Museum Oud Batavia. Setelah Kota Batavia berkembang menjadi Jakarta, koleksi di Museum Oud Batavia dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta, yang letaknya berseberangan dengan museum sebelumnya. Atas prakarsa Gubernur Ali Sadikin, Museum Batavia Lama ini dijadikan Museum Wayang.

Di taman Museum Wayang juga terdapat batu nisan Gubernur Jenderal Abraham Patras dan Willem van Outhoorn bersama isterinya Elisabet van Heyningen. Terdapat juga batu nisan dengan lambang halus dari bekas gubernur Formosa, yaitu Cornelis Cesaer beserta isterinya Anna Ooms, kemudian batu sederhana Maria Caen dan saudara laki-lakinya Anthoni Caen. Disamping itu masih terdapat batu nisan lainnya yang telah dipindahkan ke bekas kuburan yang kemudian menjadi Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang. Beberapa diantaranya ditandai HK singkatan dari Hollandse Kerk atau Gereja Belanda. Di seberang taman terdapat kuburan Jan Pieterzoon Coen yang meninggal pada tahun 1634 serta pembantu-pembantunya.

Menyusuri Kali besar sore itu banyak pedagang yang sudah menggelar lapaknya untuk berdagang di malam minggu dan tidak luput dari jepretan kamerasaya pemangkas rambut keliling…

Selanjutnya peserta sampai di Jembatan Kota Intan…

Dulunya kali ini dilalui oleh kapal2 besar pedagang yang ingin berdagang di Batavia.. sebagai salah satu transportasi untuk bisnis mereka.

Sebelum perjalanan berakhir di Stand Museum Mandiri di taman Fatahilah  (musem mandiri menang) heheheheheh

4 thoughts on “Kota Tua Punya Cerita

  1. Lilie Suratminto berkata:

    Dhydyan, bagus sekali narasinya. Ada sedikit salah ketik “Taka Merah” seharusnya “Toko Merah” . Tertulis Nacionale Handels Bank seharusnya Nationale Handels Bank. Yang lainnya sangat informatif. Alangkah baiknya kalau tulisan ini disertakan sumber atau referensinya karena untuk mengetahui kisah masa lalu diperlukan sumber-sumber tertulis atau lisan. Ini dimaksudkan agar tulisan kita menjadi lebih berbobot. Sorry just an opinion. Teruskan menulis ya. Karena dengan tulisan ini sangat menambah wawasan bagi teman-teman atau pembaca yang lain. Verba volant… Scripta manent. Bravo untuk Dhydyan…. salam saya. Lilie Suratminto

    Suka

Komentar ditutup.