POTONG TUMPENG DI KUBURAN BELANDA


Berlari dengan waktu…………

Berlari dikejar waktu ………..

Hari ini dari jam 11.00 sudah ada di @america, untuk masuk kelas MoMA, kemudian Jam 12.30 Ke JCC untuk melihat pameran DEEP dan Agrinex Expo, tetapi karena Bunda Sita ingin ke Agrinex dahulu maka kita berwisata ICIP-ICIP, dan bertemu Vera kita lanjut ke @america kembali untuk mengikuti cerita Andrea Hirata Menembus Sastra Dunia,

selesai kami foto-foto dan berkenalan dengan seseorang yang ternyata temannya Kang Asep. (komunitas sempit banget ya?) kami langsung mengambil tas di LOKER dan kemudian berjalan menuju HALTE BUSWAY, Berangkat dari Halte Polda dan Turun di Halte Mnumen Nasional (MONAS) persis depan Museum Nasional (Museum Gajah). Ke arah utara di Jalan Medan Merdeka Barat menuju Jalan Museum, Belok kiri menuju Jalan Museum, Belok kanan menuju Jalan Abdul Muis, Belok sedikit ke kiri untuk tetap di Jalan Abdul Muis, Belok kiri menuju Jalan Tanah Abang 1, Tujuan ada di sebelah kiri.

Sebenarnya saya tidak ada rencana untuk ke Lokasi (karena waktu yang terlalu mepet) hanya mengantarkan teman-teman yang belum mengetahui lokasi MUSEUM TAMAN PRASASTI ini, bertepatan dengan Anniversary KHI ke 9, tidak ada salahnya saya bersilahturahmi sekalian. mumpung kumpul semua…

Buat yang ingin mengetahui agenda Komunitas Historia Indonesia dapat menghubungi Kang Asep Kambali | Pin.22BB559F | P.+6221.3700.2345 | M.+62818.0807.3636 | http://www.komunitashistoria.org/

Iklan

Menembus Sastra Dunia


Menghadiri acara di salah satu pusat kebudayaan luar negeri di Jakarta @america pacific place bareng sama Sita Rahmah dan Vera Sembiring Gurky, menyaksikan penampilan ANDREA HIRATA

sambil mendengarkan pengalaman beliau menembus sastra dunia.. “MIMPI UNTUK MERAIH NOBEL SASTRA” .. semoga ANDREA HIRATA orang Indonesia yang bisa menembus MIMPI itu..kutipan dari Bunda Sitta “ANDA MEMBAWA  NAMA

INDONESIA ”

Tidak hanya itu ada puisi juga yang dibawakan oleh Andrea Hirata , “Moon over my obscure Little Town”, serta 3 buah lagu yang ada di album song book yang akan keluar bulan Mei. yang dinyanyikan oleh MEDA KAWU yaitu Kami Laskar Pelangi, Selamat Jalan Kawan, satu lagi lupa judulnya.. 😛

Buku yang menembus pasar Amerika adalah : The Rainbow Troops dengan Translator – Angie Kilbane,

Selain berbahasa Indonesia, Inggris, Novel ini juga sudah ada dalam bahasa Mandarin. akan menyusul bahasa Jerman, dan lainnya.

MoMA Class @ America | Matisse and Fauvism


MoMA Class @ America | Module 2: Mattise & Fauvism

Masuk @america bertemu dengan bunda Sita, Anandita dan teman lainnya.

Untuk tema kali ini diperkenalkan juga pelukis Indonesia, Sudjojono dan Simbolisme,

Peran S. Sudjojono Bagi Seni Rupa Indonesia

S. Sudjojono lahir di Kisaran tahun 1913. Ia adalah “Bapak Seni Lukis Indonesia Baru”, seorang kritikus dan pemikir seni yang merintis pendefinisian ‘seni’ dan ‘seniman’ dalam konteks sejarah Indonesia. S.Sudjojono adalah orang Indonesia yang pertama kali menemukan istilah ‘sanggar’ dan ‘pelukis’. Ia juga orang yang pertama kali mempopularkan kata “seniman” yang saat ini digunakan secara luas (Menurut S. Sudjojono, pencipta kata “seniman” adalah Ki Mangunsarkoro – Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Ke-5, 1940-1950).

Pada 1940-an, Sudjojono merumuskan dalil “jiwa ketok” atau “jiwa tampak” yang sangat terkenal. Dalil ini berkenaan dengan definisinya tentang “seni”.“Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, makasebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan,” katanya. “kesenian adalah jiwa”.

Dibandingkan dengan karya-karya Affandi atau Hendra Gunawan, tema dalam karya-karya S. Sudjojono memiliki kompleksitas tersendiri. Dan ini yang membuatnya menjadi begitu khas. Selain serial buket-buket bunga yang banyak dia hasilkan, tema-tema S. Sudjojono menyasar ke potret sosial; potret diri; keseharian keluarga; kritik terhadap dunia seni; sejarah nasional; fantasi; ragam tradisi; pemandangan hingga kecenderungan religi.

Henri Matisse

Pengaruh Moreau

Matisse the study of Moreau

Henri Matisse, Moreau’s Studio, 1894-95, private collection

• Melukis model telanjang

• Pemikiran Moreau yang terbuka & menantang murid-muridnya untuk berkembang sendiri-sendiri

• Bimbingan Moreau untuk menghormati  karya seni rupa dari masa lampau

 Paul Cezanne, Three Bathers, 1879-82

Paul Cezanne, Three Bathers, 1879-82, Petit Palais, Musee des Beaux Arts de la ville de Paris

THREE BARHERS 1879-82

Setelah dikemudikan ke arah itu oleh Camille Pissarro, Henri Matisse membeli lukisan ini dari Ambroise Vollard yang, pada gilirannya, telah memperoleh langsung dari Paul Cézanne. Matisse sakit mampu untuk mengeluarkan uang untuk karya-karya seniman lain pada saat itu, tapi begitu tersentuh dengan ini bagian yang ia menandatangani surat promes untuk Vollard untuk 1.200 franc pada bulan Desember 1899. Dia membayar utang ini dari dalam angsuran.

Selama bertahun-tahun, Tiga Bathers tetap menjadi inspirasi besar dan penegasan untuk Matisse. Ketika ia disumbangkan ke Palais Petit Musée des Beaux-Arts de la Ville de Paris pada 1936, ia menulis dalam sebuah surat kepada kurator seni dan penulis Raymond Escholier (1882-1971) pada tanggal 10 November tahun yang sama:

“Dalam tiga puluh tujuh tahun saya telah memiliki kanvas ini, saya telah datang ke tahu cukup baik, meskipun tidak seluruhnya, saya harap, melainkan telah mendukung saya secara moral di saat-saat kritis dari usaha saya sebagai seniman, saya telah ditarik dari itu iman dan ketekunan saya, karena alasan ini, izinkan saya untuk meminta agar ditempatkan sehingga dapat dilihat untuk keuntungan yang terbaik … saya tahu bahwa saya tidak perlu mengatakan ini, tapi tetap berpikir itu adalah tugas saya untuk memberitahukan pada Anda, silahkan menerima pernyataan ini sebagai kesaksian dimaafkan dari kekaguman saya untuk pekerjaan ini yang telah tumbuh semakin besar sejak saya telah memilikinya.

Henri Matisse, Male Model, 1900

Henri Matisse(French, 1869-1954), Male Model, 1900

• Pendekatan mengkonstruksi bentuk dengan warna yang dilakukan Matisse dalam karya ini, jelas merupakan hasil pengamatannya atas karya-karya Cezanne

Pengaruh Signac dan St. Tropez

Paul Signac, Port St. Tropez, 1899, Musee de Annociade, St. Tropez

Paul Signac, Port St. Tropez, 1899, Musee de Annociade, St. Tropez

Henri Matisse, Luxe, Calme, et Volupte, 1904, Musee National d’Art Moderne, Paris

Henri Matisse, Luxe, Calme, et Volupte, 1904, Musee National d’Art Moderne, Paris

• Penggunaan titik-titik Pointilistis seperti yang digunakan oleh Signac jelas mempengaruhi karya ini,
• Namun, Matisse membebaskan diri dari pendekatan Signac yg metodikal seperti Seurat.
• Goresan Matisse lebih beragam dan tidak dimaksudkan semata-mata untuk mendeskripsikan bentuk, tapi untuk mengungkap perasaan.

Sumbe: Amir Sidharta | @senirupa | @segalarupa