Bataviasche Kunstkring – Majelis Islam A’la Indonesia – Eks Imigrasi – Cafe


Gedung yang terletak di Jalan Teuku Umar no 1. ini  dibangun pada tahun 1983 dan diarsiteksi oleh Pieter Adriaan Jacobus Moojen ini merupakan tanda awal sejarah arsitektur modern di Indonesia. Pertama dibangun, digunakan sebagai gedung Lingkaran Seni Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indische Kunstkring). Dari sini pula, berkembanglah kawasan Menteng sebagai pemukiman pertama bagi warga Batavia kelas atas yang berkonsep taman.

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda menggunakan gedung itu sebagai tempat penyelenggaraan pameran lukisan kelas dunia. Sempat terpajang juga karya asli seniman dunia antara lain Pablo Picasso, Van Gogh dan Marc Chagall.

Bataviasche Kunstkring adalah organisasi (lingkar) seni yang didirikan pada zaman Pemerintah Hindia Belanda yang sangat menonjol akivitasnya pada tahun 1920an yang diposisikan sebagai pusat dari semua Kunstkring yang tersebar di Batavia, Bandung, Surabaya, dan beberapa kota besar lain. Bataviasche Kunstkring kerap menyelenggarakan pameran yang merupakan kulminasi reputasi dari daerah-daerah. Bahkan mengadakan pameran bond kunstkring, atau pameran bersama dari berbagai kunstkring. Kunstkring beranggotakan seniman-seniman Belanda atau Eropa yang berdiam di Indonesia.
Pameran pertama menampilkan karya-karya pelukis Belanda kelahiran Indonesia. Ruang-ruang yang luas dipergunakan untuk pertunjukkan musik dan ceramah, antara lain dari Prof. Djajadiningrat dan H.P. Berlage. Perpustakaan menyediakan buku-buku kesenian untuk kalangan umum. Tahun 1936 dibuka museum yang menyajikan lukisan-lukisan berkelas internasional yang dipinjam dari berbagai museum di Eropa, antara lain karya Marc Chagall, Van Gogh dan Picasso. Tahun 1935 diselenggarakan pertunjukkan Peralatan Perak. Tahun 1936 pameran Kristal dari Cekoslowakia dan pameran buku-buku serta lukisan tentang Dud Batavia tahun 1943-1937. Pameran arsitektur pertama di Indonesia diselenggarakan pada 1925. Konferensi niaga Belanda-Jepang diadakan di sini pada tahun 1933. Organisasi ini bubar ketika Jepang masuk pada tahun 1942, gedung ini sempat digunakan oleh Jepang. Gedung ini menjadi markas Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dari 1942 – 1945, MIAI adalah bentuk persatuan warga NU dan Muhammadiyah ketika itu, sebab menurut artikel-artikel yang saya baca, para pendukung utama Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia, yang dibentuk oleh MIAI) berasal dari Muhammadiyah dan NU

Setelah Indonesia merdeka, gedung ini dikuasai Pemerintah RI dan dijadikan kantor Imigrasi 1950 -1997. Lalu saat terjadi krisis moneter pada 1998, bangunan yang sedang kosong tanpa aktifitas ini tiba tiba dijarah, mulai dari kusen pintu dan jendela, kaca, lampu lampu dan semua yang bisa diambil, dirampok habis oleh orang yang sampai saat ini tidak diketahui.

Setelah penjarahan tersebut, bangunan kemudian dijadikan gedung cagar budaya. Lalu, tahun 2008, Buddha Bar bekerja sama dengan Dinas Museum DKI melakukan perbaikan sana sini dan jadilah sekarang bangunan ini berdiri megah kembali seperti sedia kala, hanya berubah fungsi menjadi sebuah resto elit.

Meski demikian, masih nampak di bagian paling atas dinding depan gedung, “Immigrasie Dienst” (Dinas Imigrasi). Ini adalah nama lama, dari Direktorat Jenderal Imigrasi yang dikenal sekarang.

Dan kini bangunan masih digunakan untuk sebuah Cafe Bistro Boulevard. kebetulan ada launcing sebuah pameran di tempat ini saya sempatkan untuk berkeliling didalam. ini beberapa detil yang sempat saya abadikan juga. masih tersisa ornamen buddha beberapa sudut.

Sumber : Buku “Menteng Kota Taman pertama di Indonesia ” dan bebearapa sumber dari artikel lainnya.

Foto : koleksi Pribadi…

Untuk saat ini Bangunan ini digunakan untuk

Restoran Bistro Boulevard

Jl. Teuku Umar No. 1
Menteng – Jakarta Pusat
Ph: 021 3900 899
Fax: 021 3900 898

Iklan