Udaya Halim


Udaya Halim adalah seorang pejuang kehidupan dan pendidikan asal Tangerang, Banten. Masa kecilnya adalah sebuah perjuangan. Udaya hanya seorang anak yang hanya bersekolah sampai SMP setelah itu, anak ke-4 dari 8 bersausara itu harus menjadi pelayan toko di Pasar Baru.
Meski putus sekolah, Udaya tak memupus harapannya untuk belajar, terutama belajar bahasa Inggris. Dengan memilah-milah uang sakunya, ia bisa memenuhi keinginannya untuk membayar kursus bahasa Inggris.
Dengan perjuangan yang tak mudah, akhirnya Udaya bisa berangkat dan belajar bahasa Inggris di sekolah bahasa di Bournemouth yang bernama King’s. Dengan upaya keras juga, akhirnya Udaya memiliki lembaga kursus yang diberi nama King’s English Course.
Di tahun 1992, lembaga ini resmi menjadi perwakilan resmi King’s England. Bukan saja menjadi perwakilan di Indonesia, tetapi juga menjadi business alliance, bahkan lembaga itu kini menjadi satu-satunya pemilik IBEC (Indonesia-Britain Education Centre) yang menjadi perwakilan resmi dari 25 universitas terkemuka di Inggris.
Saat kerusuhan terjadi tahun 1997, Udaya dan keluarga terpaksa hijrah ke Perth, Australia. Di sana ia belajar dan membuka usaha hingga sukses.
Meski punya pengalaman buruk dengan kerusuhan tahun 1997, tapi Udaya tetap menunjukkan kecintaannya pada Indonesia.
Ia kembali ke tanah air tahun 2004 lalu, kemudian mendirikan sekolah yang diberi nama Prince’s Creative School dan menjadi konsultan bagi anak-anak yang bermasalah. Ia bahkan menjual sahamnya di beberapa institusi di Perth, dimana ia menjabat sebagai direktur agar dapat lebih fokus mengembangkan sekolah ini.
Selain itu, Udaya merasa terpanggil untuk menyelamatkan bangunan bersejarah di dekat kelenteng Boen Tek Bio di kawanan cina benteng, tangerang, yang ia akan jadikan museum benteng heritage.
Sumber: KickAndy.com