Ucapan Makasih untuk KJB


-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™ mas Kartum dan team.. Dengan perjalan ke Cina Benteng.. Puas buanget walau di Museum ngak banyak foto (sadar kalau itu untuk alasan yang tepat) karena barang barang itu koleksi dan sumbangan yang ngak boleh sembarang orang tahu..:), tapi karena aku dapat pinjaman buku tentang Benteng dari BEN (membeli buku tersebut), dan ternyata penjelasan yang di jelaskan dari pak Udaya lebih terpampang di buku tersebut, itung2 untuk donasi juga membeli buku tersebut.

Secara pribadi bisa memaklumi untuk renovasi tidak sedikit biayanya, apa lagi untuk merawat yang sudah ada, agar tetap terawat dengan baik.

Sekali lagi ​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™. Komunitas Jelajah Budaya, Jelajah Kota tua.. ditunggu untuk acara selanjutnya..

Buat yang belum ikut KJB bisa menghubungi
Kartum Setiawan – 0817 99 401 73

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

Buku Museum Benteng Heritage


Di dalam Museum Benteng Heritage .. Dilarang keras untuk motret.. Alasan utama agar pengunjung membeli buku yang sudah disediakan dengan semua koleksi yang ada di dalamnya..

Secara kaca ​Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡ seorang photographer dan amatir jurnalistik pastinya untuk komersil buku dan sejarahnya juga..

Tidak simpang siur..informasinya..
Dan penyampaian sejarah sampai pada para pengunjung dengan semestinya..

​​​-̶̶•-̶̶•̸Ϟ•̸Thank You•̸Ϟ•̸-̶̶•-̶ ™
Pengelola Museum Benteng Heritage
“Kena teguran langsung”

Posted with WordPress for BlackBerry.

CINA BENTENG



Perjalanan bersama Komunitas Jelajah Budaya (KJB) dengan produk JELAJAH KOTA TOEA, yang kali ini mengunjungi kawasan Cina Benteng yang berada di kota Tangerang. Pada masalalu kawasan ini memang terdapat benteng Makasar yang berfungsi sebagai pos penjagaan. Hal ini tentu saja berkaitan dengan keberasaan sungai Cisadane yang berfungsi sebagai batas wilayah teritorial antara kerajaan Banten dan VOC. Sedangkan penamaan benteng Makasar adalah berkaitan petugas yang berjaga di benteng tersebut berasal dari wilayah Timur. Sedangkan istilah Cina benteng merujuk pada warga etnis tionghoa yang dulu banyak tinggal disekitar benteng.

Sedikit cerita :
Untuk menuju Tangerang menggunakan kereta dengan sistem komputer line (Jalur melingkar) ternyata sunggu membuat penumpang menjadi bingung, kami harus meliewati 4 stasiun : BEOS, Kampung Bandan, Duri dan Tangerang. (Rp. 5.500)

Meeting poin dari Museum Bank Mandiri menuju Stasiun Kota yang sering di sebut Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur). Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia.

Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931

Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.

Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

Menggunakan Kereta AC perjalan menuju Stasiun Kampung Bandan, Stasiun Kampung Bandan adalah stasiun kereta api yang berada di perbatasan Kelurahan Ancol (Jakarta Utara) dan Kelurahan Mangga Dua Selatan (Jakarta Pusat). Stasiun ini berada di Daerah Operasi 1 Jakarta, dan berada di belakang WTC Mangga Dua. Dahulu pintu masuk terletak di sebelah utara menuju Ancol, namun sejak perkembangan sisi selatan (Mangga Dua, Harco, dll) begitu pesatnya, pintu utara tidak pernah dipakai bahkan sekarang tidak pernah aktif sama sekali.

Stasiun kereta barang tertua di Indonesia ini merupakan satu-satunya stasiun KA di Indonesia yang memiliki jalur atas dan juga jalur bawah. Jalur di bawah menuju Pasar Senen, sementara jalur atas menuju Ancol. Stasiun ini berkali-kali diserang banjir, antara lain pada bulan Januari 2005, Desember 2007, Januari 2008, Januari 2009.

Di Stasiun Kampung Bandan lanjut ke Stasiun Duri, Stasiun Duri ini merupakan sebagai pintu penghubung untuk pengguna KRL Jakarta – Tangerang yang nantinya akan ada kereta menuju Bandara (jalur kalideres – bandara dalam tahap pembangunan)

Narsis sama spandukDi stasiun Duri ini kami cukup lama menunggu kereta untuk membawa kami ke kota Tangerang, saya putuskan untuk mengisi perut yang dari pagi hari belum sempat saya isi apapun. saya mencari akhirnya bertemu dengan bapak tukang lontong sayur (Rp. 4000).

Melanjutkan perjalanan menuju Tangerang, turun di Stasiun Tangerang, Stasiun Tangerang (TNG) merupakan stasiun kereta api yang terletak di jalan Ki Asnawi , kecamatan Tangerang , Stasiun ini berada di Daerah Operasi 1 (Daop 1), Stasiun ini juga merupakan stasiun akhir bagi perjalanan Kereta Api untuk kawasan Tangerang. (kalau nyasar carinya stasiun tangerang ngak bakalan nyasar)

Dari stasiun untuk melanjutkan beberapa tempat untuk memudahkan kami berkunjung  KJB menyewa angkot.
KELENTENG BEON SAN BIO (Vihara Nimmala)
Kelenteng BOEN SAN BIO yang terletak di Jl. K.S. Tubun No. 43, Pasar Baru – Tangerang, Banten (pasar baru). Kelenteng Boen San Bio dibangun pada tahun 1689 oleh Oey Giok Koen, seorang tuan tanah yang pernah berkuasa di kawasan Pasar Baru. Kini vihara ini amat terkenal dengan 10 rekor prestasi yang berhasil diraihnya dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Antara lain Lampion terbanyak, hio terbesar seberat 4,8 ton terbuat dari batu giok dan vihara yang memiliki 17 Kiem Sin (patung dewa-dewa) dari batu onyx dan menegakkan 1.150 telur dalam waktu hanya beberapa menit yang dilakukan oleh 108 orang. Klenteng dengan pelindung Khongco Hok Pek Tjeng Sin atau Dewa Bumi ini menyimpan banyak artifak bersejarah seperti bagian kepala dan Ekor berwarna biru dan kuning dari perahu Peh Cun yang berbentuki naga dari tahun 1940 yang disimpan dalam sebuah gazabo di halaman belakang.


Halaman samping Kelenteng Boen San Bio cukup luas, dan mampu menampung beberapa puluh kendaraan.

Jika di atap kebanyakan kelenteng biasanya dijaga oleh patung sepasang naga yang berhadapan, maka yang unik di Kelenteng Boen San Bio adalah atap kelenteng dijaga oleh sepasang burung Fenghuang (burung api, Phoenix) yang indah, dengan sebutir mutiara diantara keduanya.
Burung Fenghuang (Phoenix) adalah burung mitos yang tidak pernah mati, karena jika telah berusia tua ia akan membakar dirinya sendiri dan dari abunya akan terlahir kembali burung Phoenix yang muda.
Fenghuang konon tercipta dari paruh ayam jantan, muka burung walet, kening burung, leher ular, dada angsa, punggung kura-kura, bagian kaki belakang dan pinggang rusa jantan, dan ekor ikan. Tubuhnya melambangkan enam benda langit, yaitu kepala adalah langit, mata adalah matahari, punggung adalah bulan, sayap adalah angin, kaki adalah bumi, dan ekor melambangkan planet-planet. Sayapnya memiliki lima warna dasar: hitam, putih, merah, biru dan kuning.

Sebuah patung Singa dengan dua ekor anaknya yang ditugaskan untuk menjaga halaman depan Kelenteng Boen San Bio.

Sebuah Hiolo (tempat meletakkan batang hio yang telah dibakar) yang terbuat dari bahan sejenis batu marmar. Lazimnya, kebanyakan kelenteng memiliki berbagai jenis hiolo dengan berbagai ornamen yang terbuat dari besi atau kuningan.

Arca Co Su Kong dengan topi 5 warna Buddha dan mengenakan jubah (Jia Sha) di salah satu altar di Kelenteng Boen San Bio. Co Su Kong, panggilan akrab bagi Ching Cui Co Su, adalah Dewa Pelindung para imigran yang berasal dari Coan Ciu. Ia lahir di pegunungan Feng Chai Shan, Kabupaten Qing Xi, Propinsi Fujian pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat, dari DInasti Song (960 – 1279).

Arca Hok Tek Tjeng Sin, Dewa Bumi yang banyak dipuja para pedagang dan petani, di Kelenteng Boen San Bio.

Bedug dan tambur di Kelenteng Boen San Bio yang biasa ditabuh saat berlangsung upacara dan arak-arakan.
Patung Dewi Kwan Im setinggi sekitar 3 meter yang letaknya berada di bagian belakang Kelenteng Boen San Bio, di depan ruang Dhammasala yang merupakan tempat utama umat Buddha untuk melakukan ibadah.

Pendopo Pecun di Kelenteng Boen San Bio. Pecun merupakan sebuah upacara tradisional Cina yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh berpengaruh yang tenggelam dan tewas di sebuah sungai di Cina. Pecun adalah sebuah upaya pencarian yang dilakukan dengan memakai perahu dayung. Perayaan Pecun digelar pertama kali di Tangerang pada tahun 1910.
Kelenteng Boen San Bio pertama kali dibangun pada tahun 1689 oleh seorang pedagang yang berasal dari Cina bernama Lim Tau Koen, dan ia menempatkan patung Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin yang dibawanya dari Banten. Kelenteng Boen San Bio mengalami beberapa kali renovasi sesudah itu, terutama setelah terjadi kebakaran pada tahun 1998. Bangunan Kelenteng Boen San Bio ini berbentuk empat persegi panjang, yang berdiri di atas tanah seluas 1.650 m2.

PINTU AIR SEPUPUH
Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane atau Bendungan Sangego yang terletak di Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Tangerang. Bendungan yang lebih dikenal “Pintu Air Sepuluh”. Bendungan Pintu Air Sepuluh ini berada di sebelah kanan jalan saat anda menuju Masjid Pintu Seribu yang jaraknya sekitar 3,2 km lagi arah ke barat daya.
Sesuai namanya bendungan ini memiliki 10 pitu air, masing-masing selebar 10 meter.
Penguasa Belanda mulai membangun Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane ini pada tahun 1927 dan mulai digunakan 1932. Konon penguasa kolonial perlu mendatangkan para pekerja yang berasal dari kota Cirebon ketika membangun bendungan ini.
Bendungan ini bertujuan untuk mengatur aliran sungai Cisadane hingga membuat Tangerang menjadi kawasan pertanian yang subur dari bendungan ini, air dididstribusikan untuk irigasi dan sumber air baku bagi kawasan Tangerang .  Bendungan Pintu Air Sepuluh ini mengairi areal persawahan seluas 40.000 ha lebih yang meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kabupaten Serang dan DKI Jakarta.
Pintu-pintu air ini masih digerakkan oleh mesin-mesin tua HEMAAF warisan Belanda berkekuatan 6000 Watt yang seusia dengan umur bendungan pintu air sepuluh ini. Ada lima buah mesin penggerak pintu yang masing-masing menggerakkan dua buah pintu air.
Ruang diantara pintu air. Sungai Cisadane adalah salah satu sungai utama yang mengalir melewati Propinsi Banten dan Jawa Barat, merentang sepanjang 80 Km. Sumber air muara Sungai Cisadane di Tanjung Burung (Teluk Naga), berawal dari Gunung Salak – Pangrango di Kabupaten Bogor, dan mengalir ke Laut Jawa.
Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane merentang sepanjang 110 meter dan dibuat dengan konstruksi beton bertulang. Cukup menarik untuk melihat aktivitas penduduk di sekitar bendungan ini, dan anda pun bisa naik melewati tangga untuk kemudian berdiri menikmati pemandangan dari atas bendungan, tentu dengan ijin penjaga.


KULINER LAKSA & ASINAN (Ngak kesampean) .. tapi dapat FOTO-FOTOnya 
Ternyata di dekat ”Pintu Air Sepuluh” terdapat kuliner yang menjadi kebanggaan kota Tangerang, untuk Asinan dan Laksa yang muaaaaaaaaaaaaaaantap (katanya), karena waktu yang sangat singkat, apa daya tak jadilah saya membeli 2 makanan tersebut.

Akibat menunggu teman-teman dilayani penjual dan antrian cukup panjang , hal hasil kami tertinggal rombongan untuk melanjutkan perjalanan, dan angkot akhirpun penuh.
Masih bersyukur pula kami bertiga, akhirnya kami  memilih menggunakan angkot lain, sambil menghubungi panitia untuk meminta panduan arah jalan mana yang akan kami pilih (kayak lagu ya)… , kami naik angkot menuju arah yang dimaksud untuk menyambung angkot yang menuju Museum Benteng Heritage. Kami setop angkot yang di beritahukan dengan kebaikan bapak angkot pun kami diantar sampai tujuan walau angkot itu bukan trayeknya.. ”Terima Kasih Pak Supir” semoga  amal ibadahnya dibalas oleh sang pencipta dan diberikan rejeki yang halal berlipat-lipat ganda… amin.


MUSEUM BENTENG HERITAGE (dibahas tersendiri)
Sampai juga …
Akhirnya bisa bergabung kembali dengan rombonga, makan siang pun telah menunggu… *lontong sayur.
Museum Benteng Heritage yang baru dibuka pada tanggal 11 November 2011. Museum ini merupakan bukti dari kepedulian seorang warga Negara untuk turut melestarikan bangunan bersejarah. Museum Benteng Haritage merupakan restorasi bangunan tua yang diperkirakan berasal dari pertengahan abad 17. Berbagai peninggalan masa lalu dapat kita lihat di museum ini sebagai bukti bahwa  peanan atnis Tionghoa cukup segnifikan di tempat ini. Selain melihat bangunan cagar budaya di museum ini kita dapat merasakan kuliner khas cina benteng. Tidak banyak Foto yang bisa di tampilkan karena dilarang memotret di Museum Benteng Heritage ini sebenarnya. Hal hasil saya harus mencari info mengapa tidak di perbolehkan, ternyata mereka sudah membentuk sebuah buku semua koleksi di Museum Benteng Heritage ini.

KELENTENG BOEN TAK BIO
Boen Tek Bio adalah kelenteng tertua yang dibangun pada 1684 di kawasan permukiman China, di Pasar Lama. Tepatnya Jl. Bhakti No. 14, Pasar Lama, Tangerang, Telp : 021 5522168.

Kelenteng ini juga diketahui merupakan bangunan paling tua di Tangerang sebagai saksi sejarah bahwa orang-orang China sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam. Bangunan yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, klenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang. sejak tahun 1911 para umat Boen Tek Bio menyelenggarakan pesta Petjun yang diadakan di Kali Cisadane, yaitu perlombaan balap perahu naga.
Setelah peristiwa G-30 S/PKI, acara Petjun dilarang pemerintah, Baru setelah zaman reformasi, Petjun digelar kembali melalui FESTIVAL CISADANE. Pada festifal ini digelar kegiatanlomba perahu Naga dan atraksi kesenian khas daerah seperti tarian barongsay, liong, debus dan atraksi kesenian lainnya, Perlombaan ini berlangsung sekitar bulan Mei-Juni saat musim kemarau dimana air sungai jernih dan tenang.

Penjelajahan akhirnya berakhir sudah dan kami kembali ke Stasiun Tanggerang dengan berjalan kaki.

Sesampainya di Stasiun Tangerang ternyata kereta untuk ke Jakarta untuk Commuter Line (AC) baru ada pukul 15.50 (Tangerang – Duri). Diputuskan naik kereta ekonomi pukul 15.00 (Tangerang Duri).

Karena saya dan Dessy ingin mempercepat kepulangan kami putuskan dari awal untuk tidak sampai di kota tetapi berpisah di Duri dan melanjutkan dengan kereta lain ke Tanah Abang.

Sungguh tidak diduga kami membeli tiket diloket untuk kereta selanjutnya  (dibelikan sema seseorang bapakyang sama-sama ingin ke tanah abang), dan kereta yang ada adalah kereta ekonomi Rangkasbitung (kereta sudah masuk stasiun) dan kami pun berlari takut tertinggal maka aku naik dulu, dan temanku dibelakangku, terhadang oleh bapak yang turun dari kereta tamanku terhambat aku berteriak karena tahu akan ada kereta masuk di jalur yang kami lewati untuk menaiki kereta.

Bersyukur aku tarik tangan temanku untuk cepat naik kereta, dan kereta lain itu masuk jalurnya. Tetapi bapak yang membayari kami karcis kereta ke Tanah Abang tertahan oleh kereta yang masuk, sehingga bapak itu tertinggal kereta.

Sampai di Stasiun Tanah Abang.. sekian sepenggal cerita dari saya. semoga berkenan dihati, sampai jumpa dalam perjalanan selanjutnya.

Sumber Tulisan : Sinopsis, dan wawancara.

Sumber Foto : Dhydyan Owly dan. Beni