PERJALANAN KE BADUY 2008


29 November 2008
Akhirnya kita sampai dengan selamat di Ciboleger (salah satu perkampungan Baduy Luar) Jam menunjuk pukul 3.00 dini hari. Setelah seluruh peserta mengambil barang dari bagasi bus, kita memasuki penginapan.
^_^ kedatangan rombongan sambut dengan mati listrik, untung aku bawa senter sehingga tidak terlalu gelap untuk mempersiapkan peralatan tidur. Benar2 tidur yang pulas sekali.
Entah kok tiba2 seperti ada yang membangunkan diriku. Aku lihat di pergelangan jam menunjuk pukul 5.30 pagi. Wah.. harus cepat2 mandi nich kalau tidak keduluan orang antrinya panjang.
Setelah mandi aku dan Devi mulai mencari titik2 untuk pengambilan gambar, dilanjutkan sarapan dan jalan2 ke beberapa tempat yang ada di sekitar Ciboleger, dari perjalan itu kami mendatangi kepala Desa Baduy untuk melapor, setelah itu kita kembali ke tempat penginapan untuk penjelasan selama perjalanan menuju Baduy Dalam, perkenalan peserta, doorprize dan pemanasan (Warming Up). Sebelum kita berangkat menuju Baduy Dalam ada beberapa teman yang mengkoordinasikan bahan pangan selama kita berada di Baduy Dalam.
Perjalanan Menuju Baduy Dalam

Jam menunjuk pukul 10.00 Jalan sudah mulai mendaki, karena Letak Geografis  dan secara topografi Baduy Dalam termasuk propinsi Banten berbukit bukit maka jalan yang kan dilewati selanjutnya pasti menajak dan menurun, selama perjalanan menuju suatu daerah yang disebut DANGDANG AGEUNG yang merupakan sebuah danau, seluruh peserta dan panitia beristirahat sejenak. Hamparan padi Gogo ( padi tadah hujan atau padi rawa), Gambar lebih banyak bercerita. (foto2 bisa dilihat di facebook) .Selama perjalanan aku menemukan segala jenis tumbuhan obat2an, sayur mayur, buah2an ini disebabkan masyarakat Baduy pekerjaan utamanya merupakan berladang.

Pandangan mataku tertuju pada langit
Ku merasa kuasamu begitu besar
Tanpamu ku tak bisa meraih ini semua
Syukurku tak terkira
Langit yang biru bertanda baik
Alam bersahabat
Burung2 berkicau dengan riang
Angin sepoi-sepoi bersentuhan dengan batang bambu
Bembentuk sebuah nada
Nada yang indah menyelimuti hijau dedaunan
Semoga alam ini tetap seperti ini.
Air mataku tak tertahan lagi.
Begitu kecilnya diri ini
Kuasamu tiadak terkira..
By : Lebak, dhyan2008

Perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak mendaki dan menurun, melalui beberapa Kampung Baduy yaitu Cigoel, Kedulebak, Kuduketer ini perbatasan antara Baduy Luar dengan Baduy Dalam. Mulai dari sini semua alat elektronik dimatikan termasuk kamera. Disini pula kita puas2kan berfoto. Setelah beristirahat dan foto2 bersama selanjutnya kita melanjutkan perjalanan tanpa aktifitas foto2. Disini mulai tanjakan demi tanjakan, seperti yang dikatakan oleh panitia ini merupakan tanjakan penyesalan. Aku sempat istirahat dipunjak sebelum turun, aku dan seorang peserta beserta beberapa panitia sempat mendengar alunan suara musik. Jika dinikmati sambil santai mungkin akan terasa indah dan mempunyai not2 yang dapat di buat sebuah lagu.

“Tanjakan ini benar2 membuat jantungku pingin copot dan benar aja kakiku kram. Jika tahu jalannya seperti ini persiapan bukan hanya mental tapi fisik yang di drill dari awal. Bukan hanya olah raga ringan tapi harus masuk karantina bow, ya aku sudah hampir 7 tahun berenti mendaki (setelah melahirkan) dan dimulai traveling lagi 2 tahun terakhir ini itu pun aku baru yang datar, jadi kemarin itu ya pertama setelah sekian lama aku berhenti.”

 

Ternyata itu suatu tiang-tiang bambu yang terkena angin. Dipasang untuk mengusir burung2 yang akan memakan butir2 padi. Setelah melewati tanjakan tersebut barulah jalanan menurun untuk memasuki perkampungan CIBEO (Baduy Dalam).

“ada peristiwa yang membuat aku kaget sekaligus tertawa, diriku terpleset sebelum menapaki kaki memasuki perkampungan. Entah mukaku berwarna apa waktu itu”

 

Sebelum memasuki perkampungan aku singgah di pancuran untuk mencuci tangan yang kotor akibat terpleset. Airnya jernih, tempat inilah masyarakat perkampungan mandi, tetapi mereka terkadang mandi di sungai. Karena perkampungan CIBEO di lewati sungai. Untuk memasuki wilayah ini dapat melewati sungai atau jembatan bambu.
Pengalaman Bermalam di Baduy Dalam

Pengalaman yang tidak pernah akan terlupa.. waktu menunjukan pukul 15.00

Sampai di rumah penduduk aku langsung rebahan … karena semua peserta lain yang telah sampai lebih dulu sudah terlelap, karena perjalan yang begitu melelahkan mereka.

”Masih tidak percaya aku bisa masuk dilingkungan yang begitu asri ini.. sunyi tenang tanpa ada suara kendaraan hilir mudik yang terdengar hanya kicauan burung dan daun2 yang saling bersinggungan satu dengan lain karena tersentuh oleh lembutnya angin.”

Jam menunjuk pukul 16.00 teman2 sudah mulai bangun dan bersih2 .. segar rasanya mandi dipancuran.. sayang penghalang di pancuran sangatlah minim sehingga perlu beberapa teman untuk menjaga disekeliling agar tidak terlihat oleh mata2 yang tidak bertanggung jawab. Tanpa terasa perut mulai dirasuki rasa lapar, perbekalan yang dibawa dari Baduy luar akhirnya di kumpulkan untuk di masak oleh sang pemilik rumah yang peserta putri atau putra tempati. Alat memasak pun sangat sederhana. Peralan rumah tangga pada umumnya terbuat dari batok kelapa.Dan akhirnya kita makan bersama2.

Waktu demi waktu makin tidak terasa udara makin dingin… senja mulai menghilang di ke gelapan malam.. benar2 tidak ada lampu… akhirnya penerangan bantuan mulai dinyalakan.. unik bentuknya, terbuat dari bambu dan batok kelapa, sumbu dari kain bekas yang dipotong. Waktu sholat magrib sudah datang akhirnya diriku dan teman2 yang sholat bertayamum. Karena untuk mengambil air sembahyang kita harus melewati kegelapan malam.

Akhirnya panitia memanggil kita untuk berkumpul dan bertemu dengan Jaro Sani. Karena kerterbatasan kami peserta mengartikan bahasa yang digunakan (bahasa sunda) maka salah satu dari panitia menjadi terjemah dari pertanyaan2** dari teman2. dan akhirnya sudah terjawab semua.

Sekembalinya kita dari rumah Jaro Sani.. peserta sudah pada mengantuk sehingga alas tidur pun di gelar, kita tidur hanya alas bambu yang dilapisi tikar. Satu persatu dari temanku terlelap sudah.

Ya Allah .. aku bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati ini semua, semoga apa yang aku rasakan di Baduy dalam ini bisa menjadi bekal dikemudian hari, sebagai pendidikan untuk dirisendi maupun untuk masyarakat. Akhirnya aku terlelap sudah.