JELAJAH KOTA TOEA :Masjid Bandengan & Luar Batang (Ngabuburit)


Tema yang diangkat dalam kegiatan Jelajah Kota Toea kali ini adalah ngabuburit. Kegiatan ngabuburit biasanya dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa, nah sambil menunggu waktu berbuka puasa, sore ini Komunitas Jelajah Budaya dan Mandiri Museum akan mengajak peserta dan ojeg sepeda untuk melihat masjid-masjid di kawasan kota tua Jakarta. Memang dalam kegiatan ini peserta kami batasi, mengingat pada bulan Ramadhan banyak aktifitas dilakuan didalam masjid.
Informasi mengenai data-data sejarah tempat ibadah sangat sedikit, terutama bangunan masjid. Penyebabnya adalah untuk membangun sebuah masjid biasanya hanya dilakukan musyawarah antara warga dilingkungan tersebut. Mereka jarang sekali menulis atau membuat denahnya di atas kertas, hal inilah yang menyulitkan bagi sejarawan untuk menelusuri lebih jauh dari sejarah bangunan tersebut. Manajemen ini tentu berbeda dengan bangunan yang digunakan sebagai perkantoran pada zaman kolonial, mereka biasanya membuat semacam schetplan dan juga terdapat arsitek yang mengurusnya sehingga kita lebih mudah mengetahuinya. Data-data mengenai masjid diperoleh melalui sejarah lisan, artinya dilakukan dengan wawancara pada ahli warisnya atau masyarakat yang tingal disekitarnya.
Masjid Luar Batang
Masjid Luar Batang adalah salah satu masjid tua yang banyak dibicarakan orang dari jaman kolonial hingga saat ini. Kenapa masjid ini menjadi terkenal dan banyak dibicarakan oleh banyak orang. Hal tersebut barkaitan dengan salah satu makam yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitarnya, yaitu makam Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus. Menurut cerita yang berkembang dimasyarakat setelah Sayid Husein wafat tanggal 29 Ramadhan 1169 atau bertepatan pada tanggal 24 Juni 1756 M. Menurut rencana dimakamkan di Tanah Abang, tiba-tiba ketika dibuka kerandanya ternyata kosong. Namun jenazahnya sudah berada kembali di rumahnya, hal ini sduah dilakukan berulang kali, tetapi kejadianya sama dan akhirnya disepakati untuk dimakamkan disekitar rumahnya. Itulah versi pertama mengenai sejarah kampung Luar Batang. Sedangkan versi kedua, adalah kawasan Luar Batang merupakan daerah yang berada diluar tembok kota Batavia, bila ada perahu yang akan masuk ke dalam kota melalui sungai Ciliwung, maka penghalang kayu dibuka dan setiap perahu dikenakan beamasuk, atau semacam membayar jalan tol saat ini.
Masjid Luar Batang terletak di perkampungan Penjaringan, Jakarta Utara yang dibangun pada 1739 Masehi oleh Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus. Pada awalnya bangunan tersebut berupa musholla yang sekaligus tempat pengajian. Pada bulan Maulid, yaitu peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW banyak warga dari Jakarta maupun luar Jakarta berziarah ke mesjid ini. Pada mulanya makam ini berada di samping musholla, namun karena pembangunan dan perluasan mesjid, maka makam ini sekarang berada di dalam mesjid Luar Batang. Sehingga kita tidak dapat melihat bangunan asli tempo doeloe.
Masjid Bandengan

Masjid Kampung Baru atau orang lebih mengenalnya sebagai masjid Bandengan, hal ini berkaitan keberadaan Masjid yang terletak di jalan Bandengan Selatan. Pada awalnya masjid ini dibangun sekitar abad ke-18 di daerah yang masih mencakup wilayah perkampungan Pekojan. Masjid ini mempunyai ciri-ciri bangunan berbentuk denah persegi dengan tinggi dan beratap tumpang satu dengan bentuk atap limasan. Bangunan seperti ini mengingatkan kita pada gaya rumah pendopo di daerah Jawa Tengah. Walaupun begitu masjid ini merupakan bangunan yang dibangun oleh orang Moor yang mulai bermukim di Batavia sekitar abad ke-17. Sementara nama Bandengan mengacu pada daerah tersebut yang pada waktu itu masih berupa rawa-rawa dan dijadikan sebagai tempat hidupnya ikan bandeng, oleh sebab itu nama daerah ini dikenal dengan sebutan kampung Bandengan. Salah satu peningalan sejarah yang masih dapat kita lihat adalah sebuah mimbar dari tahun 1748 yang kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Selain masjid Kampung Baru, tidak jauh dari masjid ini juga terdapat klenteng Padi Pala yang biasa digunakan untuk beribadah warga Tionghoa. Hal ini menandakan bahwa kehidupan ber-Pancasila sudah dilakukan lama sebelum Indonesia Merdeka di kawasan ini. (Disarikan dari berbagai sumber)